Dua Pekan Diguyur Hujan, TTS Dikepung Longsor
- Jalan Putus, Puluhan Keluarga Mengungsi, Pemerintah Berpacu dengan Waktu
SoE, KLtvnews.com – Hujan belum sepenuhnya juga berhenti. Siang berganti malam, awan kelabu terus menggantung di langit Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS). Air yang turun tanpa jeda selama hampir dua pekan terakhir perlahan menggerus lereng-lereng perbukitan. Tanah yang jenuh air kehilangan daya ikatnya, lalu runtuh membawa batu, lumpur, dan pepohonan ke badan jalan hingga mendekati permukiman warga.
Di sejumlah wilayah, akses transportasi lumpuh. Jalan yang selama ini menjadi penghubung antar desa terputus akibat longsor. Distribusi hasil pertanian, kebutuhan pokok, layanan kesehatan, hingga aktivitas ekonomi masyarakat ikut terganggu.
Sementara di beberapa kampung, suara alat berat bersahut-sahutan dengan derasnya hujan. Aparat pemerintah bersama masyarakat berjibaku membuka kembali akses jalan agar kehidupan warga dapat kembali berjalan.
Di tengah situasi itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Timor Tengah Selatan bergerak cepat melakukan penanganan darurat pada sejumlah titik bencana yang tersebar di berbagai kecamatan.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Timor Tengah Selatan, Dianar Ati, kepada KLtvnews.com, Kamis (2/7/2026), mengungkapkan sedikitnya terdapat sembilan titik ruas jalan yang mengalami kerusakan akibat longsor. Ruas Jalan tersebut ada juga yang berstatus ruas jalan Provinsi.
“Sebagian besar sudah berhasil ditangani, sementara beberapa lokasi lainnya masih dalam proses pengerjaan karena kondisi cuaca yang belum memungkinkan,” jelas Dianar.
Jalan Dibuka, Longsor Datang Kembali
Perjuangan petugas di lapangan ternyata tidak mudah. Ketika satu ruas jalan berhasil dibersihkan, hujan kembali turun deras. Material longsor kembali menutup badan jalan, bahkan merusak pekerjaan yang baru saja selesai.
Kondisi itu terjadi di ruas jalan Nekmese, Kecamatan Kie, yang kembali tergerus longsor setelah dilakukan penanganan darurat.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa penanganan bencana tidak hanya bergantung pada kemampuan teknis pemerintah, tetapi juga sangat dipengaruhi kondisi alam yang masih dinamis.
Meski demikian, BPBD bersama instansi terkait tetap berupaya mempertahankan akses transportasi agar mobilitas masyarakat tidak terputus dalam waktu lama.
Hingga kini, ruas jalan di Desa Lilana–Ajaopenu (Kecamatan Nunbena), Desa Bonleu dan Sebau (Kecamatan Tobu), Desa Lotas (Kecamatan Kokbaun), Desa Sono (Kecamatan Amanatun Utara), Desa Basmuti (Kecamatan Kuanfatu), serta Babia (Kecamatan Amanatun Selatan) telah berhasil ditangani.
Sementara penanganan masih berlangsung di Oenitas, Kecamatan Amanatun Selatan. Adapun beberapa titik yang belum dapat dikerjakan berada di Desa Sei, Noebana, Nonotes, Sabun, dan Netutnana.
Tidak Hanya Jalan, Rumah Warga Pun Terancam
Bencana kali ini bukan hanya merusak infrastruktur. Longsor juga memaksa warga meninggalkan rumah demi menyelamatkan diri.
Di Kampung Oenoto, sedikitnya 10 Kepala Keluarga mengungsi setelah tebing di sekitar permukiman mengalami longsor. Selain di Kampung Oenoto Korban terdampak juga tercatat di Desa Oenai sebanyak 1 KK, Tunis sebanyak 3 KK, Lobus sebanyak 5 KK, dan Desa Santian sebanyak 16 KK.
Khusus di Desa Santian, BPBD masih melakukan asesmen untuk menentukan kategori kerusakan rumah, apakah termasuk rusak berat, sedang, atau ringan. Data tersebut akan menjadi dasar dalam proses rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana.
Sementara ini, bantuan yang telah disalurkan masih berupa kebutuhan dasar, seperti sembako dan logistik darurat bagi warga yang mengungsi.
BPBD juga telah berkoordinasi dengan BNPB dan BPBD Provinsi Nusa Tenggara Timur guna memperoleh dukungan penanganan lapangan dan penanganan pascabencana, terutama untuk membantu perbaikan rumah-rumah warga yang mengalami kerusakan.
Dana Darurat Mulai Digunakan
Penanganan bencana membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Untuk mempercepat respons, Pemerintah Kabupaten Timor Tengah Selatan memanfaatkan anggaran Belanja Tidak Terduga (BTT).
Dari total dana sebesar Rp2,2 miliar, sekitar Rp400 juta telah digunakan untuk membiayai penanganan darurat, terutama pembukaan akses jalan yang tertutup longsor. Langkah ini menjadi bagian dari tanggung jawab pemerintah daerah untuk memastikan pelayanan publik tetap berjalan meskipun daerah sedang menghadapi bencana.
Longsor Tidak Terjadi Seketika
Longsor merupakan salah satu bencana hidrometeorologi yang paling sering terjadi di wilayah berbukit seperti Kabupaten Timor Tengah Selatan.
Curah hujan tinggi yang berlangsung dalam waktu lama menyebabkan tanah menjadi jenuh air. Ketika kekuatan tanah tidak lagi mampu menahan beban, lereng akan bergerak dan akhirnya runtuh.
Beberapa tanda awal yang perlu diwaspadai masyarakat antara lain munculnya retakan tanah, pohon atau tiang listrik yang mulai miring, mata air yang tiba-tiba keruh atau debitnya meningkat, hingga suara gemuruh dari dalam tanah.
Apabila tanda-tanda tersebut muncul, warga dianjurkan segera mengungsi ke tempat yang lebih aman dan melaporkan kondisi tersebut kepada pemerintah desa atau BPBD setempat.
Bencana Menguji Ketangguhan Daerah
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa pembangunan tidak hanya berbicara tentang membangun jalan, jembatan, atau gedung pemerintahan.
Yang tidak kalah penting adalah membangun ketahanan terhadap bencana melalui perencanaan tata ruang yang baik, pelestarian kawasan hutan, pembangunan drainase yang memadai, serta edukasi masyarakat mengenai mitigasi risiko bencana.
Di tengah ancaman alam yang belum berakhir, sinergi antara pemerintah, aparat keamanan, relawan, dan masyarakat menjadi harapan agar Kabupaten Timor Tengah Selatan mampu bangkit lebih cepat dan lebih tangguh.
Sebab, dalam setiap bencana, yang dipertaruhkan bukan sekadar infrastruktur, melainkan keselamatan manusia dan keberlangsungan kehidupan masyarakat.
Reporter & Editor: Polce Lerek
