DaerahPembangunan

Pasar Murah Jadi Mesin PAD di Tengah Keterbatasan Anggaran

Tanpa Dana Fiskal, TTS Berjuang Menjaga Ekonomi Rakyat dan Meningkatkan Pendapatan Daerah

SoE, KLtvnews.com – Di tengah keterbatasan anggaran dan tidak adanya alokasi Dana Insentif Fiskal Daerah pada tahun 2026, Pemerintah Kabupaten Timor Tengah Selatan tidak memilih untuk menyerah. Sebaliknya, berbagai upaya terus dilakukan guna menjaga denyut perekonomian masyarakat sekaligus mendorong peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD).

Salah satu langkah strategis yang ditempuh adalah melalui pelaksanaan pasar murah yang digelar oleh Dinas Perdagangan, Perindustrian, Koperasi dan Usaha Mikro Kecil Menengah (PPP & UMKM) Kabupaten Timor Tengah Selatan. Program ini tidak hanya bertujuan membantu masyarakat memperoleh kebutuhan pokok dengan harga terjangkau, tetapi juga menjadi instrumen penting dalam menggerakkan ekonomi lokal.

Kepala Dinas PPP & UMKM Kabupaten TTS, Yusak Banunaek, melalui Kepala Bidang Perdagangan Agus Amfotis, menjelaskan bahwa pihaknya terus berupaya meningkatkan PAD meskipun menghadapi berbagai tantangan fiskal.

Menurut Agus, sepanjang tahun 2026 pemerintah telah melaksanakan pasar murah di lima lokasi berbeda yang tersebar di wilayah Kabupaten Timor Tengah Selatan. Kelima lokasi tersebut meliputi Desa Oinlasi di Kecamatan Amanatun Selatan, Desa Tetaf di Kecamatan Kuatnana, Desa Nobi-Nobi di Kecamatan Amanuban Tengah, serta Desa Oelet di Kecamatan Amanuban Timur.

Dari pelaksanaan pasar murah yang didanai melalui APBD Kabupaten tersebut, pemerintah berhasil merealisasikan PAD sebesar Rp120 juta. Capaian ini menunjukkan bahwa kegiatan yang berorientasi pada pelayanan masyarakat juga mampu memberikan kontribusi bagi pendapatan daerah.

Namun demikian, capaian tersebut masih berada di bawah realisasi tahun sebelumnya. Pada tahun 2025, Kabupaten Timor Tengah Selatan memperoleh alokasi Dana Insentif Fiskal sebesar Rp750 juta yang turut menopang berbagai kegiatan ekonomi daerah. Dengan dukungan anggaran tersebut, PAD yang bersumber dari pelaksanaan pasar murah mampu mencapai Rp530 juta.

Meski demikian, pemerintah daerah menghadapi tantangan yang tidak ringan pada tahun ini. Rendahnya daya beli masyarakat menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi transaksi dalam setiap kegiatan pasar murah. Ironisnya, kondisi tersebut terjadi meskipun harga kebutuhan pokok yang dijual berada di bawah harga pasar.

Fenomena ini menjadi gambaran bahwa tantangan ekonomi masyarakat tidak hanya berkaitan dengan harga barang, tetapi juga kemampuan masyarakat dalam mengakses dan membeli kebutuhan sehari-hari. Karena itu, pasar murah tidak sekadar menjadi tempat transaksi, melainkan juga menjadi indikator kondisi ekonomi masyarakat di tingkat akar rumput.

Di tengah keterbatasan anggaran dan melemahnya daya beli masyarakat, upaya Dinas PPP & UMKM TTS menunjukkan bahwa inovasi dan kerja keras tetap menjadi modal penting dalam menjaga stabilitas ekonomi daerah. Pasar murah yang digelar bukan hanya membantu masyarakat memenuhi kebutuhan pokok, tetapi juga menjadi bagian dari strategi pemerintah untuk mempertahankan sumber-sumber pendapatan daerah secara berkelanjutan.

Ke depan, sinergi antara pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat diharapkan semakin kuat sehingga program-program ekonomi kerakyatan mampu memberikan manfaat yang lebih besar, baik bagi kesejahteraan warga maupun bagi pembangunan Kabupaten Timor Tengah Selatan.

Reporter & Editor: Polce Lerek

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *