The Magic Of SoE: Kolaborasi Global dari TTS Cetak Petani Muda dan Buka Jalan Keluar dari Kemiskinan
SoE, KLtvnews.com – Di tengah berbagai tantangan pembangunan pedesaan, sebuah harapan besar tumbuh dari Kabupaten Timor Tengah Selatan. Yayasan Krisna Galensya So’E membuktikan bahwa lembaga lokal mampu menjadi penggerak perubahan melalui kolaborasi lintas daerah, lintas lembaga, bahkan lintas negara untuk mewujudkan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs).
Melalui kemitraan multipihak yang melibatkan pemerintah, lembaga swadaya masyarakat, organisasi keagamaan, hingga mitra internasional, Yayasan Krisna Galensya kembali mengimplementasikan program penguatan kapasitas petani muda yang melibatkan 113 peserta dari Kabupaten Flores Timur dan Kabupaten Timor Tengah Selatan. Program ini turut didukung Karitas Keuskupan Larantuka, Karitas Keuskupan Agung Kupang, Pemerintah Federal Jerman melalui proyek GIZ SDGs SSTC, Plan International Indonesia, Caritas Indonesia, serta ICRAF Kanada.
Selama dua pekan, para peserta mengikuti pelatihan dan magang bertajuk “Good Agriculture Practice” yang berlangsung di empat desa di Kabupaten Timor Tengah Selatan. Kegiatan tersebut resmi ditutup pada 19 Juni 2026 di Desa Tubuhue, Kecamatan Amanuban Barat, melalui acara penyerahan sertifikat sekaligus peluncuran rencana tindak lanjut pengembangan ekosistem produksi pangan lokal berkelanjutan yang terintegrasi dengan rantai pasok Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Ketua Yayasan Krisna Galensya So’E, Yus Krisna Hauoni, menjelaskan bahwa program tersebut dirancang untuk meningkatkan kesejahteraan petani miskin dan kelompok rentan melalui pendekatan pertanian berkelanjutan yang berorientasi pasar dan ramah lingkungan.
Menurutnya, hasil yang dicapai tidak hanya terlihat dari peningkatan keterampilan petani, tetapi juga dari peningkatan pendapatan yang rata-rata mencapai Rp1 juta hingga Rp2,5 juta per bulan. Angka ini menjadi bukti bahwa pertanian modern yang dikelola secara baik mampu menjadi instrumen efektif dalam pengentasan kemiskinan.
Keberhasilan penerapan Good Agriculture Practice pada komoditas hortikultura di Kabupaten Timor Tengah Selatan, lanjut Krisna Hauoni, telah menjadi model pembangunan ekonomi pedesaan yang layak direplikasi di berbagai daerah. Model ini tidak hanya memperkuat ketahanan pangan, tetapi juga menciptakan sumber penghidupan yang berkelanjutan bagi masyarakat.
Sebagai bentuk nyata kepercayaan terhadap keberhasilan program tersebut, Pemerintah Kabupaten Flores Timur mengirimkan 80 petani yang mewakili 32 kelompok tani untuk belajar langsung praktik budidaya hortikultura modern di Kabupaten Timor Tengah Selatan.
Kerja sama tersebut menjadi semakin strategis karena mempertemukan berbagai program pembangunan yang dijalankan oleh GIZ, Yayasan Krisna Galensya, Plan Indonesia, serta HARVEST Caritas Indonesia. Kolaborasi ini juga melibatkan Pemerintah Kabupaten Flores Timur, Pemerintah Kabupaten Timor Tengah Selatan, Kementerian PPN/Bappenas RI, dan Sekretariat Nasional SDGs Indonesia.
Bupati Timor Tengah Selatan, Eduard Markus Lioe, dalam sambutannya menegaskan bahwa sektor pertanian tidak boleh dipandang semata sebagai mata pencaharian tradisional. Lebih dari itu, pertanian merupakan fondasi utama ketahanan pangan, penggerak ekonomi keluarga, sarana pengurangan kemiskinan, sekaligus instrumen peningkatan kualitas hidup masyarakat.
Pemerintah Kabupaten Timor Tengah Selatan, kata Bupati, berkomitmen untuk terus mendukung inovasi dan kolaborasi yang mampu meningkatkan kapasitas petani serta memperkuat daya saing produk lokal di pasar.
Apresiasi tinggi juga datang dari Bupati Flores Timur, Antonius Doni Dihen. Dalam kesempatan tersebut, ia bahkan menjuluki keberhasilan program pertanian yang dikembangkan di Kabupaten Timor Tengah Selatan sebagai “The Magic of SoE”.
Menurutnya, keajaiban itu nyata. Dengan pemanfaatan lahan yang relatif kecil, hanya sekitar 10 x 10 meter persegi, petani mampu menghasilkan pendapatan yang signifikan dan perlahan keluar dari lingkaran kemiskinan.
Bagi Doni Dihen, kombinasi antara teknik budidaya yang tepat, pemanfaatan teknologi, serta manajemen pemasaran yang baik telah melahirkan model pertanian yang luar biasa. Ia menilai metode yang dikembangkan Yayasan Krisna Galensya memiliki nilai inovasi yang tinggi dan layak didaftarkan sebagai Hak Kekayaan Intelektual karena potensinya yang besar dalam mendorong transformasi ekonomi masyarakat pedesaan.
Sementara itu, Deputi Country Director Giz Indonesia, Ir. Zulasmi, MSc, MBA, menyampaikan apresiasinya terhadap kualitas kolaborasi yang berhasil dibangun oleh Yayasan Krisna Galensya So’E.
Menurutnya, pencapaian target-target pembangunan berkelanjutan tidak mungkin dilakukan oleh satu pihak saja. Diperlukan sinergi antara pemerintah, masyarakat sipil, dunia usaha, lembaga keagamaan, dan mitra pembangunan internasional agar manfaat pembangunan dapat dirasakan secara luas dan berkelanjutan.
Selain menerima sertifikat sebagai bentuk pengakuan atas keberhasilan mengikuti pelatihan, para peserta juga menyampaikan testimoni mengenai perubahan pengetahuan, keterampilan, dan perspektif yang mereka peroleh selama program berlangsung.
Kegiatan ini menjadi bukti bahwa ketika kolaborasi dibangun di atas kepercayaan, inovasi, dan semangat pemberdayaan masyarakat, pertanian tidak lagi dipandang sebagai sektor yang identik dengan kemiskinan. Sebaliknya, pertanian dapat menjadi jalan menuju kesejahteraan, ketahanan pangan, dan masa depan yang lebih baik bagi generasi muda Nusa Tenggara Timur.
Hadir dalam acara Closing Ceremony Pelatihan/Magang Petani Nusa Tenggara Timur Berbasis Rantai Pasok Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Kick-Off Rencana Tindak Lanjut Pengembangan Ekosistem Produksi Pangan Lokal Berkelanjutan yakni Kementerian PPN diwakili oleh Deputi PSADLH, Bpk. Anang Nugroho, Sekretariat Nasional SDGs, Bpk. Setyo Budi, Gubernur NTT diwakili Kepala Bapperida Ibu Florensia, Ketua Penasehat Investasi Pemerintah Provinsi NTT (PIPP), Bpk. Bernardus Djonoputro, Bupati TTS Eduard Markus Lioe, Bupati Flores Timur Ir. Antonius Doni Dihen, Forkompimda TTS, Commisioning GIZ-SDGs-SSTC: Zulasmi, Pimpinan Caritas Indonesia yang diwakili Romo Marsel Seludin Direktur Caritas Keuskupan Agung Kupang. Pimpinan Krisna Foundation Yus Krisna Hau Oni, Kadis pertanian TTU Charles Malelak, – Danyon TP 929- Meo matane mutis Mayor Infanteri Andi Baso pabeangi .s.s Than dan Kpolres TTS diwakili Kapolsek Batu Putih, Iptu. Eko Warso
Reporter & Editor : Polce Lerek
