DaerahNasionalPembangunanPendidikanPolitik

Gubernur Melki Resmikan Dapur Flobamorata dan NTT Mart Berbasis OSOP di SMKN 2 Soe, Dorong Transformasi Ekonomi Produktif

SoE, KLtvnews.com |
Gubernur Nusa Tenggara Timur, Emanuel Melkiades Laka Lena, mendorong perubahan mendasar pola ekonomi masyarakat dari konsumtif menuju produktif sebagai langkah strategis menekan defisit perdagangan daerah yang mencapai sekitar Rp51 triliun per tahun.
Hal tersebut disampaikan dalam kunjungan kerja Gubernur di SMKN 2 Soe, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Senin (30/3/2026), yang dirangkaikan dengan peresmian dan pengoperasian Dapur Flobamorata serta NTT Mart berbasis One School One Product (OSOP).

Dorongan Perubahan Pola Ekonomi

Menurut Gubernur Melki, tingginya angka defisit perdagangan menunjukkan bahwa NTT masih bergantung pada pasokan dari luar daerah, sementara kapasitas produksi lokal belum optimal.
“Defisit Rp51 triliun ini menunjukkan kita terlalu banyak membeli dari luar, tetapi belum cukup menjual keluar. Ini harus kita ubah,” tegasnya.
Ia mengingatkan, ketergantungan tersebut berisiko tinggi di tengah ketidakpastian global, termasuk potensi dampak konflik internasional dan fenomena El Nino yang dapat memengaruhi produksi pangan dan stabilitas harga.
Penguatan Produksi Lokal dan Efisiensi Anggaran
Sebagai langkah awal, Pemerintah Provinsi NTT telah melakukan efisiensi belanja daerah sebesar 10 persen. Namun, Gubernur menekankan bahwa kebijakan fiskal saja tidak cukup tanpa perubahan perilaku ekonomi masyarakat.
Ia menyoroti sejumlah kebocoran ekonomi, seperti konsumsi pinang yang mencapai sekitar Rp1 triliun per tahun serta ketergantungan pada air mineral dari luar daerah.
“Kita konsumsi setiap hari, tapi bukan kita yang produksi. Ini uang keluar terus tanpa kembali,” ujarnya.
Di tingkat Kabupaten TTS, perputaran uang yang keluar daerah diperkirakan mencapai Rp2,5 hingga Rp3 triliun per tahun. Jika sebagian dapat dialihkan untuk produksi lokal, dampaknya diyakini signifikan bagi pertumbuhan ekonomi masyarakat.

ASN sebagai Penggerak Ekonomi Lokal

Gubernur Melki juga mendorong aparatur sipil negara (ASN) menjadi motor penggerak konsumsi produk lokal. Dengan jumlah sekitar 11 ribu ASN di TTS, potensi perputaran ekonomi bisa mencapai Rp1,1 miliar per bulan jika masing-masing membelanjakan Rp100 ribu untuk produk lokal.
“ASN harus menjadi contoh dalam mendukung produk daerah,” katanya.
Selain itu, pemerintah juga akan berperan sebagai pembeli awal guna membangun kepercayaan pasar terhadap produk lokal.
Integrasi Program OVOP, OSOP, dan OCOP
Gubernur menegaskan pentingnya integrasi tiga pendekatan, yakni One Village One Product (OVOP), One School One Product (OSOP), dan One Community One Product (OCOP).
Dengan sekitar 96 sekolah tingkat SMA, SMK, dan SLB di TTS, ia optimistis akan lahir puluhan hingga ratusan produk unggulan jika program ini dijalankan secara serius.
“Minimal satu sekolah satu produk. Bahkan untuk SMK, setiap jurusan bisa menghasilkan produk berbeda,” jelasnya.
Produk yang dikembangkan mencakup berbagai sektor, mulai dari pangan olahan, kerajinan, hingga kebutuhan rumah tangga seperti sabun dan produk harian lainnya.

Tantangan Kualitas dan Branding

Gubernur Melki mengakui bahwa produk lokal masih menghadapi tantangan dalam hal kualitas dan kemasan. Namun, ia mengajak masyarakat untuk terus mendukung sembari melakukan perbaikan bertahap.
Ia juga menekankan pentingnya narasi produk sebagai nilai tambah dalam pemasaran, terutama untuk menembus pasar nasional dan internasional.
“Produk akan lebih bernilai jika memiliki cerita tentang asal-usul dan proses pembuatannya,” ujarnya.

Dukungan Nyata dan Peran Sekolah

Dalam kunjungan tersebut, Gubernur secara langsung membeli berbagai produk hasil karya siswa dan pelaku UMKM, seperti kue rambut manis, keripik pisang, stik kelor, sambal luat, abon ikan, jagung goreng, hingga kain tenun.
Langkah ini menjadi bentuk dukungan konkret agar produk lokal tidak berhenti pada tahap produksi, tetapi juga memiliki pasar yang jelas.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan NTT, Ambrosius Kodo, menjelaskan bahwa program OSOP dirancang untuk menghubungkan dunia pendidikan dengan kebutuhan pasar.
“Kita ingin sekolah menjadi teaching factory, di mana siswa tidak hanya belajar teori, tetapi juga memproduksi, mengelola usaha, hingga memasarkan produk,” jelasnya.
Dapur Flobamorata dan NTT Mart, lanjutnya, berfungsi sebagai laboratorium praktik sekaligus etalase produk lokal yang dikelola secara profesional.
Dukungan Pemerintah Daerah
Sementara itu, Bupati TTS, Eduard Markus Lioe, menilai program ini membuka peluang besar dalam meningkatkan nilai tambah produk lokal serta memperkuat peran generasi muda dalam pembangunan ekonomi daerah.
“Produk lokal seperti tenun, hasil pertanian, dan olahan pangan memiliki potensi besar untuk bersaing di pasar yang lebih luas,” ujarnya.
Ia juga mengajak masyarakat untuk aktif membeli produk lokal sebagai bentuk dukungan nyata terhadap pertumbuhan ekonomi daerah.

Profil SMKN 2 Soe

SMKN 2 Soe saat ini memiliki tujuh program keahlian, yakni Pekerjaan Sosial, Manajemen Perkantoran dan Layanan Bisnis, Teknik Komputer dan Jaringan, Tata Busana, Perhotelan, Teknik Energi Terbarukan, dan Teknik Elektro.
Sekolah ini didukung oleh 78 tenaga pendidik dan kependidikan, serta memiliki 960 peserta didik.
Peresmian Dapur Flobamorata dan NTT Mart berbasis OSOP ini menjadi langkah konkret dalam membangun ekosistem ekonomi produktif berbasis pendidikan. Upaya ini tidak hanya mendorong kemandirian sekolah, tetapi juga memperkuat fondasi ekonomi daerah melalui keterlibatan generasi muda sebagai pelaku usaha masa depan.

Reporter & Editor : Polce Lerek

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *