DaerahNasionalOlahragaPendidikanViral

Loudry Asbanu dan Aldi Banamtuan Mengguncang NTT dan Mengangkat Martabat TTS

SoE, KLtvnews.com — Gemuruh sorak ribuan penonton di GOR Oepoi Kupang, Rabu dini hari 17 Desember 2025, menjadi saksi lahirnya sebuah sejarah besar. Tim Voli Putra Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) menaklukkan Tim Voli Putra Sumba Timur lewat laga final Ben Mboi Memorial Cup 2025 (BMMC) yang penuh drama, adrenalin, dan air mata perjuangan. Skor akhir 3–2 bukan sekadar angka, melainkan simbol kebangkitan, harga diri, dan pembuktian jati diri anak-anak TTS.

Di tengah duel lima set yang menguras fisik dan mental, dua nama bersinar terang dan mencuri perhatian publik voli Nusa Tenggara Timur: Loudry Pascal Asbanu, dinobatkan sebagai Toser Terbaik, dan Aldi Banamtuan, yang meraih predikat Libero Terbaik. Dua anak desa ini bukan hanya membawa pulang tropi dan penghargaan, tetapi juga meruntuhkan stigma lama bahwa anak TTS identik dengan keterbatasan dan ketertinggalan.

Usai menerima penghargaan dari Pemerintah Daerah TTS berupa uang pembinaan dan sertifikat di Kantor Bupati TTS pada awal pekan lalu, Loudry menyampaikan rasa syukur dan kebahagiaannya dengan mata berbinar.
“Ini semua berkat kerja keras, disiplin tinggi, latihan yang terus-menerus, serta soliditas antar pemain dan pelatih,” ujar Loudry dengan nada penuh bangga.

Putra dari Kabag Protokoler Setda TTS, Johanis Asbanu ini menegaskan bahwa keberhasilan timnya tidak berdiri sendiri. Ada doa orang tua, dukungan Bupati dan Wakil Bupati TTS, serta semangat suporter dan masyarakat TTS yang tak pernah padam sejak babak awal hingga partai puncak.
“Saya bersyukur kepada Tuhan dan berterima kasih sebesar-besarnya kepada Bupati dan Wakil Bupati TTS, orang tua saya, rekan setim, manajer, suporter, dan seluruh masyarakat TTS. Semoga momentum ini menjadi awal kebangkitan kaum muda TTS untuk kemajuan daerah, khususnya di bidang olahraga,” ungkapnya.

Nada optimisme yang sama disuarakan Aldi Banamtuan, sang Libero Terbaik. Ia menegaskan bahwa gelar juara BMMC bukan hadiah instan, melainkan buah dari proses panjang yang keras dan disiplin.
“Sebelum turun di BMMC, kami melewati seleksi ketat. Latihan dijalani dengan disiplin dan konsistensi tinggi. Mental juara kami ditempa setiap hari, sampai akhirnya kami bisa meraih yang terbaik,” tegas Aldi.

Final BMMC sendiri berlangsung bak sebuah epik. Dua set awal menjadi milik Sumba Timur dengan skor ketat 25–23 dan 25–22. TTS sempat terpuruk, namun tidak runtuh. Di set ketiga, Laskar Cendana Wangi bangkit, mengubah arah permainan dan mengunci kemenangan 25–10. Set keempat kembali menegangkan, TTS memaksakan set penentuan setelah menang tipis 26–24. Pada set kelima, dengan mental baja dan determinasi tinggi, TTS menyudahi perlawanan Sumba Timur dengan skor 15–10, memastikan kemenangan dramatis 3–2 dan mengangkat Piala Bergilir BMMC.

Kemenangan ini bukan sekadar prestasi olahraga. Ini adalah pesan edukatif yang kuat bagi generasi muda: bahwa kerja keras, disiplin, mental juara, dan kekompakan mampu mengubah nasib dan persepsi. TTS kini tak hanya dikenal sebagai peserta, tetapi dinobatkan sebagai “Raja Voli Se-Nusa Tenggara Timur”, daerah dengan kultur voli yang kuat dan masa depan cerah.

Dengan tangan mengepal, Loudry dan Aldi menyerukan ajakan penuh makna kepada kaum muda TTS:
“Bangkit, bekerja keras, disiplin, dan bangun daerah ini di semua lini. Tunjukkan kepada dunia bahwa anak muda TTS bisa!”

Dari lapangan voli, sebuah pelajaran hidup menggema: prestasi lahir dari proses, dan daerah akan besar jika pemudanya berani bermimpi dan berjuang.

Reporter : Polce Lerek
Editor : Polce Lerek

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *