Tambak Garam Toineke “Mati Suri”, PAD Rp800 Juta Terancam: Banjir Lumpuhkan Sentra Garam Andalan TTS
SoE, KLtvnews.com – Harapan menjadikan tambak garam Desa Toineke, Kecamatan Kualin, sebagai salah satu penopang Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Timor Tengah Selatan kini berada di ujung tanduk. Sejak Januari 2026 hingga pertengahan Mei 2026, tambak garam seluas tujuh hektar yang dikelola Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UMKM Kabupaten TTS dilaporkan tidak beroperasi sama sekali.
Akibat kondisi tersebut, daerah tidak memperoleh pemasukan dari sektor yang sebelumnya digadang-gadang menjadi salah satu sumber ekonomi potensial masyarakat pesisir selatan TTS. Ironisnya, di tengah lumpuhnya aktivitas produksi garam, Dinas PPK dan UMKM justru dibebani target PAD tahun 2026 sebesar Rp800 juta.
Situasi ini memunculkan pertanyaan publik mengenai efektivitas pengelolaan aset daerah, kesiapan mitigasi bencana, hingga strategi pemerintah menjaga keberlanjutan sektor ekonomi berbasis potensi lokal.
Kepala Dinas PPK dan UMKM Kabupaten TTS, Jusak E. Banunaek, SH., M.Hum., yang dikonfirmasi KLtvnews.com di ruang kerjanya, Senin (18/05), membenarkan bahwa lokasi tambak garam Toineke memang tidak lagi beroperasi sejak awal tahun.
Menurut Jusak, aktivitas produksi lumpuh akibat banjir dari Kali Noemuke dan sejumlah aliran sungai di pesisir selatan yang menerjang kawasan tambak. Air bercampur lumpur menggenangi hampir seluruh area produksi sehingga merusak sistem tambak yang ada.
“Genangan air dan lumpur hampir menutupi seluruh area tambak, sehingga aktivitas produksi tidak bisa berjalan,” jelas Jusak.
Meski demikian, pihaknya memastikan pemerintah daerah tidak tinggal diam. Dinas PPK dan UMKM, kata dia, segera melakukan langkah optimalisasi agar fasilitas tersebut dapat kembali berfungsi dan memberi kontribusi terhadap PAD daerah.
“Besok saya akan pimpin langsung teman-teman di dinas turun ke lokasi untuk melakukan perbaikan area tambak supaya bisa kembali beroperasi,” tegasnya.
Tambak garam Toineke sendiri sebelumnya dikenal menggunakan sistem geomembran, yakni teknologi modern yang memanfaatkan lembaran plastik sintetis kedap air di dasar kolam produksi garam. Sistem ini dinilai jauh lebih efektif dibanding metode tradisional karena mampu meningkatkan kualitas maupun kuantitas hasil produksi.
Dalam praktiknya, geomembran memiliki sejumlah keunggulan penting. Selain menghasilkan garam yang lebih putih dan bersih, teknologi ini juga mempercepat proses kristalisasi karena mampu menyerap panas matahari secara maksimal. Lapisan kedap air juga mencegah kebocoran sehingga air laut yang masuk dapat dimanfaatkan sepenuhnya untuk pembentukan kristal garam.
Tidak hanya itu, penggunaan geomembran turut mempermudah proses panen karena kristal garam tidak bercampur langsung dengan tanah atau lumpur. Dengan demikian, hasil produksi menjadi lebih higienis dan memiliki nilai jual lebih tinggi di pasaran.
Namun kondisi yang terjadi di Toineke memperlihatkan bahwa teknologi modern sekalipun tetap membutuhkan dukungan infrastruktur pengendali banjir dan sistem mitigasi lingkungan yang memadai. Jika tidak, investasi daerah berpotensi mengalami kerusakan berulang setiap musim hujan atau saat debit sungai meningkat.
Secara ekonomis, mandeknya tambak garam Toineke bukan hanya berdampak pada PAD daerah, tetapi juga berpotensi mempengaruhi rantai ekonomi masyarakat sekitar yang menggantungkan harapan pada sektor produksi garam lokal.
Karena itu, langkah cepat pemerintah daerah dalam memulihkan area tambak menjadi sangat penting, bukan sekadar demi mengejar target PAD, tetapi juga menjaga keberlangsungan potensi ekonomi pesisir yang selama ini mulai tumbuh di wilayah selatan TTS.
Di sisi lain, publik juga menanti adanya evaluasi menyeluruh terhadap tata kelola tambak garam tersebut, termasuk perencanaan teknis menghadapi ancaman banjir agar kejadian serupa tidak terus berulang di masa mendatang.
Reporter & Editor: Polce Lerek
