DaerahNasionalPembangunan

“Proyek SPAM Laob Terancam Mangkrak, Harapan 125 KK Menggantung di Ujung Pipa”

SoE, KLtvnews.com – Harapan akan air bersih yang layak di Desa Laob, Kecamatan Polen, Kabupaten Timor Tengah Selatan, kini berubah menjadi kekecewaan yang kian mengendap. Proyek Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) berbasis jaringan perpipaan yang digadang-gadang menjadi solusi krisis air, justru tersendat di tengah jalan—bahkan terancam mangkrak.

Proyek yang dikerjakan oleh CV Delta Amal Pradana sejak 30 Juni 2025 itu sejatinya dibiayai melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) Tahun Anggaran 2025 dengan nilai kontrak mencapai Rp 825.440.000. Mengusung sistem gravitasi—yang secara teknis memungkinkan air mengalir tanpa pompa dari sumber yang lebih tinggi ke pemukiman—program ini seharusnya menjadi jawaban atas kebutuhan dasar masyarakat. Namun hingga akhir April 2026, manfaatnya belum benar-benar dirasakan oleh sekitar 125 kepala keluarga penerima manfaat.

Progres Fisik Tersendat, Standar Teknis Diabaikan

Fakta di lapangan menunjukkan pekerjaan yang jauh dari kata tuntas. Dari total 125 Sambungan Rumah (SR) yang direncanakan, baru sekitar 70 SR yang terpasang. Ironisnya, sebagian sambungan tersebut tidak dilengkapi meteran air maupun kran, bahkan tanpa dudukan permanen berupa cor beton.

Tak hanya itu, jaringan pipa jenis HDPE yang telah dipasang pun dibiarkan terbuka tanpa penimbunan tanah—sebuah pelanggaran terhadap standar teknis yang berpotensi merusak infrastruktur dan mengganggu distribusi air di kemudian hari.

Simon Djami, salah satu warga Desa Laob, mengungkapkan kekecewaannya. Ia menilai proyek dengan anggaran ratusan juta rupiah tersebut tidak mencerminkan kualitas pekerjaan yang seharusnya.

“Ini sudah akhir April 2026. Kalau kondisi fisiknya seperti ini, kasihan masyarakat yang sudah berharap air bersih bisa dinikmati,” ujarnya.

Kontrak Berakhir, Perpanjangan Gagal Menjawab

Secara administratif, proyek ini seharusnya rampung pada 26 November 2025. Namun karena progres fisik yang belum selesai, Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) memberikan perpanjangan waktu pertama selama 50 hari kalender. Ketika target itu kembali meleset, diberikan tambahan waktu kedua selama 40 hari.

Sayangnya, hingga batas akhir perpanjangan kedua pada Maret 2026, progres pekerjaan tidak menunjukkan peningkatan signifikan. Situasi ini menimbulkan pertanyaan serius terkait perencanaan, pengawasan, hingga komitmen pelaksana proyek.

Respons Pihak Terkait

PPK proyek, Benny Misa, sebelumnya menyatakan akan turun langsung ke lapangan dan memerintahkan kontraktor untuk segera menyelesaikan sisa pekerjaan.

Di sisi lain, Kuasa Direktur CV Delta Amal Pradana, Anton Bessi, mengaku tengah berupaya mengerahkan tenaga kerja untuk menuntaskan proyek. Ia juga menyebut bahwa pencairan dana baru mencapai 75 persen.

Pernyataan ini mengindikasikan bahwa secara keuangan proyek belum sepenuhnya terealisasi, namun secara fisik juga belum memberikan hasil optimal—sebuah kondisi yang perlu diawasi secara ketat.

Mengapa Proyek SPAM Penting?

Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) bukan sekadar proyek infrastruktur biasa. Ia menyangkut hak dasar masyarakat atas air bersih—yang berdampak langsung pada kesehatan, sanitasi, dan kualitas hidup.

Keterlambatan atau kegagalan proyek seperti ini tidak hanya merugikan secara finansial, tetapi juga memperpanjang persoalan sosial, seperti:

  • Risiko penyakit akibat air tidak layak konsumsi
  • Beban ekonomi masyarakat untuk mendapatkan air
  • Ketimpangan akses layanan dasar di daerah terpencil
  • Peningkatan angka stunting  di wilayah setempat

Mendesak: Transparansi dan Tindakan Tegas

Persoalan SPAM Desa Laob menjadi cerminan penting bahwa pembangunan infrastruktur harus diiringi dengan pengawasan ketat, akuntabilitas, dan komitmen pelaksana. Pemerintah daerah diharapkan tidak hanya memberi perpanjangan waktu, tetapi juga mengambil langkah tegas jika ditemukan kelalaian atau penyimpangan.

Lebih dari itu, masyarakat berhak mendapatkan kepastian: apakah air bersih itu akan benar-benar mengalir ke rumah mereka, atau hanya akan tetap menjadi janji yang terkubur bersama pipa-pipa yang tak pernah difungsikan.

Reporter & Editor: Polce Lerek

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *