Bappenas Sebut Model Pertanian TTS Layak Jadi Contoh Nasional, Gubernur NTT: Dari Ladang Rakyat Lahir Ketahanan Pangan Indonesia
SoE, KLtvnews.com – Dari hamparan hijau lahan pertanian di Desa Tubuhue, Kecamatan Amanuban Barat, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), sebuah pesan kuat bergema ke seluruh Nusa Tenggara Timur bahkan ke tingkat nasional: ketahanan pangan tidak dibangun oleh satu lembaga, melainkan lahir dari kolaborasi, kerja keras petani, dan keberpihakan nyata kepada masyarakat.
Momentum penutupan pelatihan Good Agricultural Practices (GAP) yang melibatkan ratusan petani muda dari Kabupaten Flores Timur dan Timor Tengah Selatan menjadi panggung penting untuk menunjukkan bagaimana pembangunan pertanian dapat berjalan secara inklusif, berkelanjutan, dan berdampak langsung bagi masyarakat.
Gubernur Nusa Tenggara Timur, Emanuel Melkiades Laka Lena, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi tinggi kepada seluruh pihak yang telah terlibat dalam membangun ekosistem pertanian berkelanjutan di NTT.
Menurutnya, keberhasilan yang terlihat hari ini bukan sekadar hasil panen dari lahan pertanian, melainkan buah dari ketekunan, kerja keras, dan semangat juang para petani muda yang selama dua minggu mengikuti proses belajar langsung di lapangan.
“Dari ladang-ladang hijau Tithetnao ini, kita tidak hanya memanen sayuran. Kita sedang memanen harapan, pengetahuan, dan masa depan yang lebih baik bagi masyarakat NTT,” ujar Gubernur Laka Lena
Atas nama Pemerintah Provinsi NTT, Gubernur menyampaikan penghargaan kepada Kementerian PPN/Bappenas yang dinilai telah menempatkan NTT sebagai mitra strategis nasional dalam mewujudkan ketahanan pangan yang inklusif dan berkelanjutan.
Apresiasi juga diberikan kepada Pemerintah Jerman melalui GIZ, Plan International Indonesia, Yayasan Krisna Foundation, Caritas Indonesia, Badan Gizi Nasional, serta seluruh mitra pembangunan yang selama ini hadir mendampingi petani hingga ke tingkat lapangan.
Menurut Gubernur, keberhasilan yang dicapai di TTS membuktikan bahwa NTT memiliki kemampuan untuk membangun sistem pangan lokal yang produktif apabila didukung kolaborasi yang kuat, pendampingan yang berkelanjutan, serta kepercayaan kepada petani sebagai pelaku utama pembangunan.
Bukti keberhasilan itu kini terlihat nyata. Sekitar 300 petani yang tergabung dalam 30 kelompok tani mampu memasok antara 1,4 hingga 2 ton sayuran setiap hari untuk memenuhi kebutuhan delapan dapur Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang melayani sepuluh sekolah di wilayah TTS.
“Anak-anak kita hari ini makan dari hasil ladang orang tua mereka sendiri. Ini bukan sekadar program. Ini adalah ekosistem yang hidup, yang menghubungkan gizi anak, pendapatan keluarga, dan ekonomi desa dalam satu rantai yang kuat,” tegas Melki.
Lebih membanggakan lagi, program pendampingan yang dimulai dari TTS kini telah menjangkau 2.389 petani, terdiri dari 2.080 petani di TTS dan 309 petani di Kabupaten Timor Tengah Utara.
Pemerintah Provinsi NTT kini bersiap memperluas keberhasilan tersebut ke wilayah lain, termasuk Kabupaten Flores Timur yang sedang menyiapkan kawasan pertanian seluas sekitar 500 hektare di Pulau Solor dengan target melibatkan sekitar 1.000 petani.
Menurut Laka Lena, kehadiran 90 petani Flores Timur dalam pelatihan ini merupakan pertanda bahwa daerah tersebut siap menjadi pusat pertumbuhan pertanian baru di NTT.
“Ini bukan mimpi. Kita sudah memiliki bukti bahwa model ini berhasil di TTS. Hari ini adalah titik awal ketika komitmen bertemu dengan aksi nyata,” katanya.
Gubernur juga memberikan penghormatan kepada para petani peserta magang yang disebutnya sebagai pahlawan pembangunan pangan.
“Saat kembali ke kampung halaman, jangan hanya membawa ilmu. Bawalah semangat perubahan. Jadilah agen transformasi yang menunjukkan bahwa petani NTT adalah petani yang tangguh, cerdas, dan berdaulat,” pesannya.
Sementara itu, Kementerian PPN/Bappenas yang diwakili Deputi Bidang Pembangunan Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup, Anang Nugroho, menegaskan bahwa kehadirannya di TTS merupakan bagian dari pelaksanaan arahan Presiden untuk memperkuat ketahanan nasional melalui sektor pangan.
Menurut Anang, pemerintah pusat meyakini bahwa pangan merupakan pintu masuk utama untuk memperkuat ketahanan bangsa sekaligus meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia.
Ia mengaku terkesan dengan model pembangunan yang sedang berjalan di Kabupaten TTS karena berhasil menghubungkan sektor pertanian, pangan, dan gizi dalam satu sistem yang saling menguatkan.
Anang bahkan membandingkan Program Makan Bergizi Gratis saat ini dengan Program Makanan Tambahan Anak Sekolah yang pernah dikelolanya sekitar tiga dekade lalu.
Kala itu, program hanya mampu menjangkau siswa beberapa kali dalam seminggu. Namun kini, Indonesia sedang berupaya memastikan puluhan juta anak memperoleh asupan gizi yang lebih baik setiap hari melalui Program Makan Bergizi Gratis.
“Ini sebuah lompatan besar. Banyak negara membutuhkan puluhan tahun untuk membangun sistem seperti ini. Karena itu apa yang sedang dilakukan hari ini harus kita jaga dan terus kita kembangkan bersama,” ujarnya.
Menurut Anang, keberhasilan TTS menjadi bukti bahwa pembangunan tidak dapat dilakukan secara sektoral maupun parsial.
“Tidak mungkin Badan Gizi Nasional bekerja sendiri. Tidak mungkin Program Makan Bergizi Gratis berjalan sendiri. Semua harus berkolaborasi. Dan di Timor Tengah Selatan, kita melihat bentuk kolaborasi itu bekerja dengan sangat baik,” tegasnya.
Ia menilai model yang dibangun di TTS layak menjadi contoh nasional karena mampu mengintegrasikan pemerintah pusat, pemerintah daerah, petani, penyuluh, dunia usaha, hingga mitra pembangunan dalam satu tujuan yang sama.
Karena itu, Bappenas berkomitmen mendukung Pemerintah Kabupaten TTS dan Kabupaten Flores Timur untuk mengembangkan model tersebut agar dapat direplikasi di berbagai daerah lainnya.
Dalam kesempatan itu, Anang juga menyoroti pentingnya peran penyuluh pertanian dalam menjaga keberlanjutan program.
Menurutnya, keberhasilan transformasi pertanian tidak hanya bergantung pada bantuan sarana produksi, tetapi juga pada kualitas pendampingan yang diberikan kepada petani.
“Tanggung jawab besar ada di pundak para penyuluh pertanian. Mereka adalah ujung tombak yang memastikan ilmu, teknologi, dan inovasi terus sampai kepada petani,” katanya.
Anang menjelaskan bahwa terdapat tiga unsur yang harus terus diperkuat secara bersamaan, yakni pertanian, pangan, dan gizi.
Ketiganya merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekaligus membangun generasi yang sehat dan produktif.
Ia juga mengingatkan bahwa konsumsi sayur dan buah masyarakat Indonesia masih tergolong rendah dibandingkan standar kesehatan yang dianjurkan.
Karena itu, keberhasilan pengembangan hortikultura di Kabupaten TTS menjadi contoh penting bahwa wilayah NTT mampu menghasilkan produk pangan bergizi yang mendukung peningkatan kualitas hidup masyarakat.
Menutup arahannya, Anang memastikan Bappenas akan terus mengawal proses transformasi pertanian yang sedang berlangsung di NTT.
“Pusat dan daerah harus terus bergandengan tangan. Apa yang kita bangun hari ini bukan hanya tentang meningkatkan produksi pertanian, tetapi tentang mewujudkan kemakmuran, kesejahteraan, dan masa depan yang lebih baik bagi rakyat Indonesia,” pungkasnya.
Reporter & Editor: Polce Lerek
