DaerahInternasionalNasionalPembangunanPendidikanViral

52 Gereja Dapat Dana Hibah Rp. 31,2 Milliar dari Yayasan Karya Mandiri Nusantara Bersatu

Pagi di SoE selalu dingin. Namun Selasa, 10 Februari 2026, udara terasa lebih menggigit dari biasanya. Kabut menggantung rendah seperti selimut abu-abu. Hujan rintik turun pelan. Tanah merah di pelataran Balai Pertemuan Efata SoE berubah becek.  Sepatu dan Sandal jemaat basah. Ujung celana digulung. Anehnya, tak seorang pun berbalik pulang. Motor tua, pick up desa, hingga mobil gereja berderet rapat. Mereka datang dari jauh—dari kampung, lereng, lembah, bahkan pulau-pulau kecil. Mereka datang bukan untuk pesta. Mereka datang membawa satu hal: pengharapan.

Hari itu, ratusan perwakilan gereja se-NTT berkumpul menyaksikan penyerahan hibah pembangunan rumah ibadah dari Yayasan Karya Mandiri Nusantara Bersatu. Totalnya membuat ruangan hening. Nilainya Fantastis : Rp 31.259.700.000 untuk 52 gereja. Angka yang bagi jemaat kecil di pelosok terasa seperti doa yang akhirnya dijawab.

Iman yang Tidak Tinggal di Bibir

Di atas mimbar, seorang pemuda berdiri tegap. Namanya Girel Daud, Ketua Yayasan Karya Mandiri Nusantara Bersatu. Suaranya lantang, tapi sarat getar emosi. “Hari ini kita menyaksikan karya nyata Tuhan. Kehadiran kami adalah panggilan iman. Kami percaya, iman tanpa perbuatan adalah mati.”Kalimat dari Yakobus 2:17 itu menggema di ruangan. Bukan sekadar kutipan ayat. Hari itu, ayat itu menjelma menjadi tindakan konkret: dana miliaran rupiah benar-benar disalurkan. Di tengah banyaknya retorika keagamaan, yayasan ini memilih bahasa yang lebih keras namun sederhana: aksi. Karena iman, jika hanya tinggal di bibir, hanyalah gema kosong.

Luka Ngada Menjadi Pengingat

Saat tragedi bocah SD di Ngada disebut, suasana mendadak sunyi. Semua tersadar: Gereja bukan hanya soal bangunan. Ia harus menjadi tempat berlindung, tempat menguatkan, tempat menyelamatkan. “Tuhan tidak melihat megahnya gedung, tapi hati yang peduli,” ujar Girel. Sejak itu, bantuan ini terasa lebih dalam maknanya. Bukan hanya membangun tembok. Tapi membangun kepedulian.

Hujan Berkat Itu Bernama Bantuan

Di tengah suasana haru, Wakil Bupati TTS, Jhony Army Konay, turut berdiri menyampaikan pesan. Nada suaranya tegas, namun hangat. Ia mengaku mengapresiasi langkah yayasan yang memberi perhatian bagi pembangunan gereja-gereja lintas denominasi di NTT, khususnya di Kabupaten Timor Tengah Selatan.“Bagi kami, ini seperti hujan berkat bagi gereja-gereja,” ujarnya. Kalimat itu sederhana, tapi terasa tepat. Di tanah yang sering kekeringan anggaran, bantuan miliaran rupiah memang seperti hujan pertama setelah kemarau panjang.

Wabup Konay berpesan agar dana tersebut dimanfaatkan sebaik-baiknya. “Gunakan dengan bijak. Supaya benar-benar berdampak pada kemajuan pembangunan rumah ibadah dan pelayanan jemaat.” Ia juga berharap pihak perbankan, khususnya BRI, dapat memfasilitasi proses pencairan dana. “Kalau pencairan cepat, panitia bisa langsung menyerap anggaran. Progres fisik pembangunan juga berjalan lebih cepat,” tambahnya. Bagi jemaat di pelosok, kelancaran administrasi sama pentingnya dengan bantuan itu sendiri. Karena setiap hari keterlambatan berarti satu hari lagi mereka beribadah di gedung setengah jadi.

Efata SoE: Lima Tahun Menabung Air Mata

Ketua Panitia Efata SoE, Otnial Tallo, maju menerima bantuan. Ia berdiri berderet dengan perwakilan gereja lain dan menerima buku rekening. Isinya Rp. 2.000.000.000 “Total kebutuhan Rp 21 miliar. Dana terserap Rp 12 miliar. Progres 70 persen. Kami bangun dari iuran jemaat, dari hasil kebun, dari ternak yang dijual,” katanya. Hari itu, bantuan Rp 2 miliar turun. “Ini bukan cuma dana. Ini nafas baru.”

Epy Kamlasi, panitia pembangunan, tak mampu menyembunyikan haru. “Kami bangun gereja ini dengan keringat jemaat. Ada mama-mama sisihkan uang belanja, bapak-bapak angkut pasir. Ini bantuan terbesar selama ini. Rasanya seperti doa kami dijawab Tuhan.” Kalimatnya sederhana. Tapi menyentuh. Di kursi belakang, seorang mama tua menyeka air mata. Lima tahun mereka menabung. Lima tahun mereka berdoa. Dan pagi itu, Tuhan seperti menjawab sekaligus.

GMIT Sonhalan Niki-Niki: Dari Jagung dan Ayam

Di sudut lain, Welem Tan bercerita tentang Pembangunan gereja mereka. “Tidak ada donatur besar. Kami kumpul sedikit-sedikit. Ada yang sumbang jagung, ada jual ayam, ada tenaga.” Progres baru 40–50 persen. Saat mendengar bantuan Rp 1,7 miliar, ia sempat tak percaya. “Bantuan ini bikin jemaat makin kuat imannya.” Kalimat sederhana. Tapi berat maknanya. Karena di sana, iman bukan teori. Iman adalah kerja tangan dan keringat.

Bantuan yang Menyebar ke Seluruh Penjuru NTT

Hibah itu kemudian menyebar ke 52 rumah ibadah—dari Kupang hingga Rote, dari Sabu sampai Alor. Gereja-gereja kecil. Kapela sederhana. Pos pelayanan di desa terpencil. Namun di tempat-tempat itulah kehidupan berdenyut.Gereja bukan cuma tempat kebaktian. Ia adalah: tempat anak belajar, tempat warga rapat, tempat keluarga mencari penguatan,tempat orang bertahan saat hidup terasa berat. Jadi yang dibangun bukan sekadar gedung. Yang dibangun adalah harapan, martabat, dan masa depan.

Berikut 52 rumah ibadah penerima hibah:

  1. GMIT Efata SoE
  2. Gereja Ebenhaeser Sebau
  3. GMIT Galed Oko Boking
  4. GMIT Imanuel Kesetnana SoE
  5. GBI JYKT SoE
  6. GMIT Hosana Pusu – TTS
  7. GPDI Shosha Nekamese Baun
  8. GMIT Ebenhaeser Pukdale
  9. Gereja Gloria Lotelutun Rote Barat Daya
  10. Pospel Betesda Oetefu Rote Barat Daya
  11. GMIT Betania Membang Alor
  12. GMIT Ebenhaiser Ege Sabu Liae
  13. GMIT Mizpa Tetebudale
  14. GMIT Hal’O Bieto
  15. GMIT Kota Baru Kupang
  16. GMIT Firdaus Getzemani Oelbubuk – TTS
  17. GPDI Hebron Kusi Kuanfatu – TTS
  18. GBI Kristus Raja Kemuliaan Oelpuah – TTS
  19. GMIT Sonaf Uisneno Hoineno Nongkolo – TTS
  20. GMIT Kasih Karunia Oesao – Kab. Kupang
  21. GMIT Efata Taus Kualin – TTS
  22. GMIT Betesda Tepas – TTS
  23. GMIT Sinai Toisilu Mnelalete – TTS
  24. Kapela Santa Maria Bintang Timur Polen – TTS
  25. GMIT Imanuel Oehenas Kusi – TTS
  26. GMIT Horeb Oelnabesi Pariti – Kab. Kupang
  27. GMIT Petra Ledepemulu – Sabu Raijua
  28. Pospel Imanuel MBR Alor
  29. GPDI Rajawali Loelutun – Rote Barat Daya
  30. GMIT Batu Karang Kuanoni – Kota Kupang
  31. GMIT Zoar Penkase – Kota Kupang
  32. GMIT Imanuel Oekero – Kab. Kupang
  33. GMIT Sonhalan Lasi Kuanfatu – TTS
  34. GMIT Kefas Oinlasi – Amanatun Selatan
  35. GMIT Talitakum Osin Kolbano – TTS
  36. GMIT Sonhalan Niki-Niki – Amanuban Tengah
  37. GMIT Lopbala Suni Noebana – TTS
  38. GMIT Talitakum Pos PI Efata Mela Noebana – TTS
  39. GBI Misi Allah Nunumeu – Kota SoE
  40. GMIT Siloam Nule – Amanuban Barat
  41. GMIT Betesda Tubulete Kilobesa – Amanuban Barat
  42. GMIT Solideo Gloria Nefomeu Tobu – TTS
  43. GMIT Bokhim Nik’ana Salbait – Mollo Barat
  44. GBI Sesawi Fatukoto – Mollo Barat
  45. GMIT Eklesia Nunbaun Dela – Kota Kupang
  46. GMIT Bait El Kampung Baru Penfui – Kota Kupang
  47. Kapela St. Paulus Noekele – Amabi Ofeto
  48. GPDI Jemaat El Kudus Letbaun – Semau
  49. Kapela Santa Maria Fatima Batakte – Kupang
  50. GMIT Bahtera Hayat Osmo – Kota Kupang
  51. (tambahan jemaat lokal penerima tahap pertama)
  52. (tambahan jemaat lokal penerima tahap pertama)

Ketika Lagu Itu Dinyanyikan

Hujan masih turun saat acara ditutup. Semua berdiri. Lagu itu mengalun pelan: “Waktu Tuhan pasti yang terbaik…” Suara mereka tak selalu merdu, tapi jujur. Di tengah dinginnya SoE, ruangan terasa hangat. Karena hari itu, iman tidak lagi diam. Ia turun tangan. Ia bekerja. Ia menjelma nyata. Dan di tanah kompleks gedung serbaguna efata SoE yang basah itu, harapan akhirnya menemukan jalannya pulang.

Reporter & Editor: Polce Lerek

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *