DaerahHealthNasionalPendidikan

Stunting TTS Masih Terhalang Tembok Kokoh

SoE, KLtvnews.com – Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) kembali berdiri di titik kritis. Di tengah deru program, laporan kegiatan, dan derasnya anggaran yang terus digelontorkan, upaya penurunan stunting di daerah ini seolah terhenti oleh sebuah tembok kokoh yang sulit retak, apalagi roboh.

Tembok itu adalah ketidakteraturan strategi, lemahnya koordinasi, dan rapuhnya komitmen eksekusi. Dan rakyat, terutama anak-anak, tetap menjadi korbannya.

Angka yang Menggetarkan: TTS Bertahan di Zona Merah

Data terbaru 2024–2025 menorehkan fakta pahit: prevalensi stunting TTS mencapai 56,8 persen. Angka ini bukan hanya tinggi, tetapi mencengangkan, bahkan jauh di atas rata-rata provinsi (17,07 persen) dan nasional (19,8 persen).

Setiap kali angka itu diucapkan, seakan terdengar gema rintihan masa depan generasi TTS yang terancam terganggu—fisik, mental, bahkan mimpi mereka.

56,8 persen bukan sekadar angka.
Ia adalah wajah-wajah kecil yang tumbuh dalam keterbatasan.
Ia adalah alarm keras bahwa TTS sedang berjalan di tepi jurang krisis pembangunan manusia.

Miliaran Rupiah Mengalir, Namun Dampak Masih Menguap

Yang membuat tembok stunting itu semakin tinggi adalah kenyataan pahit bahwa puluhan miliar rupiah anggaran telah disediakan, baik intervensi spesifik maupun sensitif. Namun tak satu pun mampu menggerakkan TTS keluar dari zona merah.

Program ada. Intervensi ada. Laporan kegiatan pun tersusun rapi.

Namun yang belum tampak adalah daya dobrak, kolaborasi nyata, dan tepat sasar—tiga elemen kunci yang semestinya menggerus angka stunting secara signifikan.

Tak heran jika publik mulai bertanya-tanya:

  • Ada apa dengan strategi penanganan stunting selama ini?
  • Mengapa anggaran besar tidak berbanding lurus dengan hasil di lapangan?
  • Apakah intervensi benar-benar menyentuh rumah tangga yang sangat membutuhkan?

Tanya itu terus menggema, tanpa jawaban tuntas.

Pernyataan Pejabat yang Mengiris: “Saya Tidak Mengerti Strateginya Salah di Mana…”

Sebuah pernyataan yang menguak “retakan besar” dalam sistem terlontar dari seorang pejabat teras Pemkab TTS:

“Saya juga tidak mengerti strateginya salah di mana sehingga stunting TTS masih di angka 56,8 persen.”

Ucapan itu mengejutkan. Ucapan itu memilukan. Karena bila pejabat yang mestinya memahami arah dan strategi saja sudah kebingungan, bagaimana mungkin tembok stunting bisa diruntuhkan?

Pernyataan tersebut menjadi simbol betapa ketidaksinkronan antar sektor, penargetan sasaran yang kurang presisi, dan minimnya evaluasi menyeluruh, telah menjadi rantai baja yang membelenggu progres penanganan stunting di TTS.

Tembok Kokoh Itu Harus Dirobohkan

Tidak bisa lagi hanya mengandalkan rapat formal, laporan administrasi, dan distribusi program yang tidak terarah.
TTS membutuhkan gerakan besar, gerakan yang mampu memecahkan tembok kokoh yang membatasi masa depan generasinya.

Untuk itu, TTS harus:

  • Menghilangkan sekat ego sektoral
  • Memperkuat pemetaan sasaran dengan data yang akurat
  • Mengawasi setiap rupiah anggaran agar tidak tersesat di jalur birokrasi
  • Mendekati keluarga dan komunitas secara lebih intensif dan humanis

Stunting adalah persoalan jangka panjang.
Stunting adalah persoalan keadilan generasi.
Stunting adalah persoalan moral pemerintahan.

Empat Strategi Besar Pemkab TTS

Dalam Pra Musrenbang Tematik Stunting pada 19 November 2025, Wakil Bupati Johny Army Konay menegaskan empat strategi kunci untuk mengejar target penurunan stunting menjadi 51,8 persen pada 2026:

  1. Fokus pada 1000 Hari Pertama Kehidupan – fase emas yang tidak boleh lagi diabaikan.
  2. Penguatan APBD untuk Intervensi Sensitif dan Spesifik – anggaran harus tepat guna, tepat sasaran.
  3. APBDes Wajib 20% untuk Stunting – desa sebagai benteng terdepan harus bergerak masif.
  4. Kolaborasi Lintas Sektor – bergerak bersama tanpa sekat, tanpa saling menyalahkan.

Strategi ini menyasar kelompok utama seperti ibu hamil, bayi, balita, remaja putri, calon pengantin, hingga keluarga rentan.

Harapannya jelas: runtuhkan tembok kokoh itu, bebaskan TTS dari belenggu stunting.

(Polce Lerek / KLtvnews.com)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *