Mengais Dollar di Ujung Negeri
- Harapan Baru dari Pasar Tapal Batas
SoE,KLtvnews.com – Embusan angin dari Pegunungan Timor terasa lembut menyapu wajah para pedagang yang sibuk membuka lapak di Pasar Motaain, Kabupaten Belu. Aroma kopi panas bercampur bau tanah basah menguar dari kios-kios sederhana yang berdiri bersisian di bawah naungan tenda plastik. Tawar-menawar pun bersahut-sahutan—kadang dalam Bahasa Indonesia, sesekali dalam Tetun, dan tak jarang dibumbui Melayu Timor.
Di pasar yang terletak tepat di perbatasan antara Indonesia dan Timor Leste ini, ribuan dollar berpindah tangan setiap harinya. Dollar, bukan rupiah, menjadi mata uang favorit di pasar ini. Di sinilah denyut ekonomi lintas batas berdetak—hidup, berwarna, dan menjanjikan harapan baru.
Namun, potensi besar itu belum sepenuhnya direngkuh oleh warga Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), yang sesungguhnya memiliki sumber daya melimpah.

Pasar Perbatasan: Bukan Sekadar Transaksi
Pasar Motaain bukan hanya tempat jual beli kebutuhan pokok. Ia adalah simpul perjumpaan budaya dan ekonomi. Hasil bumi dari pedalaman Nusa Tenggara Timur seperti beras, sayuran, jagung, kopi, kemiri, hingga kerajinan tangan khas Timor dan ternak lokal, berpadu dengan produk-produk dari Timor Leste. Di balik kesederhanaannya, pasar ini menyimpan peluang emas.
“Ini peluang yang harus ditangkap. Apalagi mata uang yang digunakan adalah dollar. Sangat rugi kalau kita diam saja,” tegas Robby Alunat, Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Kabupaten TTS baru baru ini.
Menurut Robby, warga TTS memiliki potensi besar untuk menembus pasar perbatasan. Selain hasil pertanian dan peternakan, kerajinan tangan, makanan olahan, bahkan bahan bangunan dapat ditawarkan ke pasar lintas batas—tentu lewat jalur resmi yang kini diperkuat oleh kerjasama bilateral Indonesia-Timor Leste.
Sinergi yang Belum Terjalin
Sayangnya, hingga kini belum ada langkah konkret untuk menjembatani pelaku usaha TTS agar bisa terlibat aktif dalam perdagangan lintas batas. Robby menyebutkan bahwa minimnya informasi dan kurangnya forum resmi antara pemerintah dan pelaku usaha menjadi penghambat utama.
“Kami butuh ruang diskusi. Harus ada forum tetap antara Pemkab dan asosiasi pengusaha untuk bahas potensi yang bisa dijual ke Timor Leste,” ujarnya.
Ia mendorong adanya sinergi antara Pemerintah Kabupaten TTS dengan asosiasi seperti Apindo dan Kadin untuk bersama-sama mengidentifikasi potensi daerah dan membina pelaku UMKM agar siap menembus pasar regional.
Bukan Sekadar Jual-Beli: Ini Tentang Kedaulatan Ekonomi
Aktivitas ekonomi di pasar perbatasan bukan hanya soal jual beli. Ia adalah bentuk nyata dari diplomasi rakyat, tempat masyarakat dua negara bersaudara saling mengenal, saling menghidupi. Setiap transaksi adalah benih kepercayaan, dan setiap interaksi adalah jembatan budaya.
“Selama peluang ini tidak dimanfaatkan, kita hanya akan jadi penonton di panggung ekonomi ini,” tandas Robby.
Kini, keputusan ada di tangan Pemerintah Kabupaten TTS dan para pelaku usaha lokal: apakah akan berdiam dalam zona nyaman, atau mulai berani menjemput peluang di luar batas administratif. Karena di tapal batas yang jauh dari hiruk-pikuk kota, peluang mengais dollar menanti siapa pun yang cukup berani untuk melangkah. (Polce/KLtvnews.com)
