Menembus Cuaca Berkabut dan Jalan Lumpur, Wabup Army Konay Kawal Penanganan Korban Tragedi Nifukani
SoE, KLtvnews.com — Di tengah langit kelabu, kabut yang menutup pandangan, dan jalanan berlumpur yang licin, satu sosok pemimpin tetap melangkah tanpa ragu. Ia adalah Wakil Bupati Timor Tengah Selatan, Johny Army Konay—figur yang dikenal peka, peduli, dan sigap terhadap setiap persoalan yang dihadapi masyarakatnya.
Tanpa menunggu lama, Wabup Army Konay didampingi Kepala Dinas P&K TTS Apris Manafe langsung bergerak menuju Desa Nifukani, Dusun B, Kecamatan Amanuban Barat—lokasi tragedi robohnya gedung darurat SD Inpres Oepula. Cuaca berkabut, medan yang sulit tidak menjadi penghalang. Baginya, kehadiran di tengah masyarakat yang berduka adalah bentuk tanggung jawab moral sebagai pemimpin.
Setibanya di lokasi, sudah ada Kalak BPBD Dianar Atti. Wabup Konay tidak sekadar meninjau. Ia turun langsung ke titik kejadian, menyapa warga, memantau kondisi korban, dan memastikan proses penanganan berjalan cepat dan tepat. Didampingi jajaran terkait, ia mengawal proses evakuasi hingga memastikan korban yang selamat mendapatkan perawatan medis yang layak.
Di balik sikap tegasnya, tersirat empati yang mendalam. Dengan suara yang tertahan, ia menyampaikan belasungkawa atas meninggalnya Noldi Kause (9), salah satu korban dalam tragedi tersebut.
“Atas nama pemerintah daerah, kami menyampaikan duka cita yang mendalam. Ini menjadi pukulan bagi kita semua,” ucapnya dengan penuh keprihatinan.
Kepala KLtvnews.com Wabup Army Konay juga menjelaskan kronologi kejadian berdasarkan informasi di lapangan. Ia mengungkapkan bahwa bangunan yang roboh merupakan gedung lama yang dibangun sejak tahun 1991 dan telah dua tahun tidak difungsikan. untuk KBM SD Inpres Oepula ada gedung TRK berkonstruksi parmanen.
Menurut penuturannya, sebelum kejadian, sekitar 15 anak sedang bermain di halaman sekolah. Namun, karena hujan rintik mulai turun, sebagian anak—terutama siswa kelas 1 dan 2—masuk ke dalam gedung tersebut untuk bermain. Tanpa tanda-tanda awal, bangunan tua itu tiba-tiba roboh dan menimpa anak-anak yang berada di dalamnya.
Penjelasan tersebut menjadi peringatan keras akan bahaya bangunan tua yang tidak lagi layak digunakan.
Bagi Wabup Army Konay, tragedi ini bukan hanya peristiwa duka, tetapi juga momentum refleksi bersama. Ia menegaskan pentingnya kewaspadaan di tengah cuaca ekstrem serta perlunya langkah mitigasi bencana yang lebih serius.dan hal itu menjadi tanggungjawab bersama.
“Kita harus lebih peka terhadap lingkungan. Jika ada bangunan yang sudah tidak layak atau lama tidak digunakan, segera diamankan atau dibongkar. Ini tanggung jawab kita bersama,” tegasnya.
Meski sebagian korban hanya mengalami luka ringan, satu nyawa tak terselamatkan. Duka mendalam menyelimuti keluarga dan masyarakat Nifukani.
Namun di balik tragedi itu, kehadiran Wabup Army Konay menjadi simbol nyata kepemimpinan yang hadir dan bekerja di tengah rakyat. Ia tidak hanya datang, tetapi memastikan setiap korban tertangani, setiap masalah diperhatikan, dan setiap risiko ke depan diminimalkan.
Langkah cepat, kepedulian tulus, dan keberanian menembus medan sulit menjadi cerminan kepemimpinan yang berpihak pada rakyat.
Tragedi Nifukani menjadi pengingat: di balik setiap bencana, selalu ada pelajaran—dan di balik setiap duka, hadir harapan dari pemimpin yang peduli.
Reporter & Editor : Polce Lerek
