DaerahNasionalPendidikanViral

“Langkah Cepat untuk Rakyat: Bupati TTS Hadir Sebelum Warga Terisolasi”

  • Dinas PUPR Turunkan Alat Berat, Jalan Kolonakaf diperbaiki

SoE,KLtvnews.com  –  Di tengah ancaman terputusnya akses vital yang menghubungkan delapan kecamatan, Pemerintah Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) bergerak cepat melakukan intervensi lapangan. Bupati Eduard Markus Lioe bersama Wakil Bupati Johny Army Konay mengaktifkan skema darurat penanganan ruas jalan Kolonakaf.

Pemda TTS langsung mengerahkan alat berat dan berkoordinasi dengan Pemprov NTT untuk memastikan mobilitas warga tidak lumpuh total. Inilah intervensi cepat yang menjadi penegas bahwa pemerintah daerah bekerja bukan untuk sensasi, tetapi untuk keselamatan masyarakat. Bukan karena viral, bukan karena tekanan, tetapi karena tanggung jawab moral dan komitmen pelayanan yang tak bisa ditawar!

Bupati Bergerak! Ketua DPRD NTT Ikut Turun Tangan—Kolonakaf Mendadak Jadi “Pusat Komando Darurat”

Kamis, 4 Desember 2025, menjadi hari yang menggetarkan. Langit Kolonakaf seolah menyaksikan pemandangan langka: Bupati TTS, Ketua DPRD NTT Emilia Nomleni, anggota DPRD NTT Intje Sayuna, dan Obet Naitboho turun langsung ke medan krisis!

Tak lagi sebatas laporan di meja. Tak lagi hanya foto kiriman warga. Mereka berjalan, melihat, dan berdiri tepat di atas jalan yang kondisinya memanggil—“Selamatkan aku!”

“Ini jalan provinsi, tapi penderitaan yang merasakannya adalah masyarakat TTS,” tegas Bupati Eduard, dengan suara yang membuat seluruh rombongan terdiam sesaat.

Delapan kecamatan menggantungkan hidupnya pada ruas ini: Kie, Amanatun Selatan, Fautmolo, Santian, Noebana, Nunkolo, Kotolin, dan Boking.

Potret kerusakan Kolonakaf tak lagi sekadar patahan dan gerusan longsor. Ini realita tentang infrastruktur yang menjerit.

Tiga titik berpotensi mematikan mobilitas barang dan jasa jika tidak ditangani secepatnya.

“Emergency harus dilakukan sekarang, dan permanen segera menyusul oleh Pemprov. Kita tetap lakukan penanganan dilapangan,” ucap Bupati Eduard dengan nada penuh tekad.

Langkah cepat dilakukan:

  • Dinas PUPR Provinsi NTT turun dengan tim teknis untuk perencanaan permanen.
  • Dinas PUPR TTS mengerahkan ekskavator dan alat berat untuk penanganan darurat.
  • Material sirtu kelas satu disiapkan untuk menstabilkan badan jalan.

Kolonakaf berubah menjadi denyut kerja tanpa henti.

Bupati Eduard: “Jangan Asal Bicara, Mari Tetap Menjaga Etika!”

Di tengah meningkatnya komentar publik, Bupati Eduard memberikan nasihat yang menggetarkan ruang diskusi masyarakat TTS.

“Sampaikan informasi dengan santun. Jangan sampai niat baik salah dipahami. Kita harus tetap menjaga etika berkomunikasi,” pintanya.

Di zaman ketika satu unggahan bisa memicu badai, pesan Bupati ini mengandung nilai edukasi penting: kritik boleh, tapi harus elegan; protes bisa, tapi tetap beretika.

Ketua DPRD NTT Emilia Nomleni: Akses Alternatif Harus Aman—Gubernur Sudah Dihubungi!

Emilia Nomleni mengungkapkan langkah cepat lainnya.

“Kami sudah komunikasi dengan Gubernur dan Kadis PUPR. Ruas alternatif ini harus bisa dilalui dengan aman,” ujarnya tegas.

Kehadirannya bukan sekadar simbolik, namun membawa suara lembaga legislatif provinsi ke titik krisis infrastruktur TTS.

Intje Sayuna Menggelegar: “Tanah Labil! Gunakan High Technology! Jangan Buang Anggaran!”

Seakan menambah bobot keseriusan penanganan Kolonakaf, Intje Sayuna menegaskan sesuatu yang selama ini sering diabaikan dalam pembangunan:

“Tanah di sini labil. Jika nanti jadi jalan provinsi, penanganannya wajib pakai teknologi tinggi. Jangan sampai anggaran habis tapi jalan tetap gampang longsor!”

Pernyataan ini seperti alarm keras bagi dunia teknik:

infrastruktur bukan hanya soal aspal dan batu, tetapi soal ilmu, perhitungan, dan teknologi.

Situasi Lapangan: Ekskavator Menderu, Pejabat Memantau, Waktu Terus Berjalan

Pantauan KLtvnews menunjukkan ekskavator Dinas PUPR TTS bekerja tanpa jeda. Debu beterbangan,dan tanah dikeruk demi memperbaiki akses yang aman.
Bupati Eduard dan Emilia Nomleni berdiri mengamati setiap pergerakan, memastikan tidak ada langkah yang salah.

Rombongan juga melanjutkan peninjauan ke Oepates dan titik longsor dekat Kantor Pos Giro Oinlasi, memastikan bahwa tidak ada area kritis yang luput dari perhatian.

Catatan Redaksi: Kenapa Jalan Kolonakaf Harus Diprioritaskan dan Tidak Bisa Ditangani Asal-Asalan?

  1. Kontur Tanah Kolonakaf Rawan Longsor.

Perlu teknologi tinggi seperti geotekstil, dinding penahan (retaining wall), dan sistem drainase dalam.

  1. Akses 8 Kecamatan.

Jika terputus, ekonomi masyarakat dapat lumpuh: harga barang naik, distribusi tersendat, layanan kesehatan terganggu.

  1. Jalan Provinsi  Standar Harus Lebih Tinggi.

Tidak bisa sekadar ditimbun lalu selesai.

  1. Investasi Infrastruktur  sama halnya Investasi Masa Depan.

Perbaikan yang benar akan menghemat anggaran jangka panjang.

Kolonakaf Mungkin Rawan, Tapi TTS Tidak Pasrah. Bupati Eduard Membuktikan: Pemimpin Sejati Turun Sebelum Situasi Meledak.

Reporter : Polce Lerek

Editor : Polce Lerek

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *