Kapolres TTS Terima Massa Demonstran dengan Sikap Humanis: Orasi Menggelegar, Dialog Tetap Terjaga
SoE, KLtvnews.com – Suasana tegang sempat menyelimuti gerbang Mapolres TTS, Jumat (12/12/2025) siang sekitar pukul 10.30 WITA. Massa gabungan mahasiswa Aliansi Gerakan Timor Raya berorasi dengan suara lantang, berapi-api, menuntut penegakan keadilan atas sejumlah kasus yang mereka nilai lamban dan tidak transparan. Namun, di tengah panasnya situasi, Kapolres TTS AKBP Hendra Dorizen, SH., S.IK., MH tampil dengan pendekatan berbeda—humanis, santun, dan terbuka.
Setelah salat Jumat, massa dipersilakan masuk ke Aula/Lobi Mapolres TTS untuk melaksanakan audiensi resmi. Momen ini menjadi titik balik: dari ketegangan di pagar masuk, beralih ke dialog di ruang tertutup yang jauh lebih konstruktif.

1. Kapolres TTS: “Kritik Anda adalah Bahan Bakar Reformasi Polri”
Dalam arahannya, Kapolres Dorizen menyampaikan apresiasi mendalam kepada mahasiswa.
“Terima kasih kepada rekan-rekan mahasiswa yang telah datang menyampaikan kritik dan saran. Ini penting untuk memperbaiki kinerja kami dalam masa reformasi Polri.” — Kapolres Dorizen.
Ia menegaskan, tidak ada ruang untuk ‘mafia kasus’ atau penutupan laporan di Polres TTS. Setiap laporan masyarakat, kata Kapolres, langsung ditindaklanjuti oleh penyidik sesuai prosedur lidik dan sidik. Jika unsur pidana terpenuhi, maka kasus wajib diproses hingga tuntas sesuai SOP.
2. Beban Kasus dan Keterbatasan Penyidik: Realita yang Perlu Dipahami Publik
Dalam sesi penjelasan, Kapolres memaparkan kondisi objektif yang sering menjadi kendala dan dipersepsikan publik sebagai “kelambatan proses”.
Fakta Lapangan:
- 14 Polsek berada di bawah wilayah hukum Polres TTS.
- Polsek hanya melakukan penerimaan laporan dan penyelidikan awal.
- Semua proses penyidikan penuh dilimpahkan ke Polres, sehingga menumpuk di tingkat kabupaten.
- Sejak Januari hingga Desember 2025, Polres TTS telah menerima 950 laporan polisi, terbanyak terkait kasus penganiayaan.
Dengan jumlah penyidik yang terbatas, Polres TTS harus memprioritaskan kasus berat, termasuk:
- Pembunuhan
- Kekerasan seksual terhadap anak di bawah umur
Meskipun demikian, Kapolres menegaskan komitmennya:
“Kami pastikan semua kasus akan tuntas dan dipertanggungjawabkan di persidangan.”
3. Respons terhadap 9 Tuntutan Massa Mahasiswa
Ketua umum aksi, Asten Bait, menyampaikan sembilan tuntutan keras, di antaranya:
- Membebaskan tersangka Kornelis (Abraham) Djabi karena dinilai salah tangkap.
- Evaluasi kinerja Kasat Reskrim.
- Pencopotan dan pemeriksaan etik Kanit Pidum.
- Evaluasi kinerja Kanit PPA, yang menangani kasus pelecehan anak disabilitas Desa Kuatae sejak Mei 2025.
- Mendesak percepatan kasus pembunuhan/pemukulan anak sekolah di Desa Poli oleh oknum guru.
- Ancaman boikot Mapolres TTS jika tak ada tindakan.
Suara massa menggelegar, tetapi tak menghalangi proses dialog formal.
4. Kapolres: “Semua Kasus Akan Diproses, Kami Tidak Menutup Apa Pun”
Menanggapi tuntutan mengenai Kornelis/Abraham Djabi, Kapolres menegaskan mekanisme hukum yang berlaku.
“Jika rekan-rekan ingin tersangka dibebaskan, maka bantu korban melakukan konsolidasi untuk pencabutan laporan. Jika laporan dicabut, kami dapat memproses restorative justice sesuai aturan.”
Kapolres kembali menegaskan bahwa tidak ada penutupan kasus, dan hambatan yang sering muncul justru dari:
- Berkas bolak-balik dari Jaksa karena petunjuk belum terpenuhi,
- Tambahan saksi,
- Akses menuju lokasi kejadian yang sulit.
Namun ia menjamin:
“Semua tuntutan mahasiswa akan kami tuntaskan dalam waktu dekat.”
5. Kasat Reskrim: “Semua Berjalan Sesuai SOP, Waktu Penyelesaian Kami Percepat”
Kasat Reskrim Polres TTS AKP I Wayan Pasek Sujan, SH., MH turut memberi penjelasan.
Ia memastikan seluruh tuntutan yang diajukan mahasiswa telah diproses sesuai standar operasional, dan beberapa kasus yang tersisa akan diselesaikan sebelum tahun baru.
6. Aksi Dua Jam, Dialog Lima Jam: Ketegangan Berubah Menjadi Edukasi Publik
Pantauan media menunjukkan:
- Aksi demonstrasi berlangsung sekitar dua jam di depan Mapolres TTS.
- Massa kemudian diarahkan masuk untuk audiensi.
- Proses diskusi berlangsung hingga pukul 16.00 WITA.
Kapolres yang turun langsung, didampingi Wakapolres dan jajaran, menjaga suasana dialog tetap kondusif—menjadikan demonstrasi ini sebagai contoh interaksi demokratis yang sehat antara aparat dan masyarakat.
Catatan Redaksi Edukasi Untuk Publik: Mengapa Dialog Lebih Penting dari Konflik
Peristiwa ini menjadi pembelajaran penting:
1. Kritik adalah bagian dari demokrasi.
Namun kritik menjadi lebih bermakna jika disampaikan dalam ruang dialog yang memungkinkan solusi nyata.
2. Proses hukum memiliki tahapan, kendala teknis, dan pertanggungjawaban.
Pemahaman publik terhadap alur penyidikan sangat menentukan kepercayaan terhadap aparat.
3. Pendekatan humanis aparat terbukti mampu meredakan konflik.
Apa yang dilakukan Kapolres TTS—membuka pintu untuk dialog—adalah praktik terbaik dalam reformasi Polri.
Reporter : Polce Lerek
Editor : Tim Redaksi KLtvnews.com
