DaerahHealthNasionalPembangunanPendidikanPolitikViral

Di Balik Kabut SoE : Ketika Kemiskinan Masih Tinggal di Sudut Kota, dan Pers Ditantang Memilih Berpihak

SoE. KLtvnews.com – Sore itu langit So’E seperti menahan tangis. Kabut turun perlahan, menyelimuti pemukiman Karang Siri. Gerimis tipis mengetuk seng-seng tua rumah warga. Jalan tanah licin. Sebuah batu besar mengganjal laju kendaraan liputan. Mobil tim KLtvnews sempat berhenti lama, seolah alam sendiri memberi isyarat: perjalanan menuju kebenaran memang tak pernah mulus.

Setelah dibantu warga, tim akhirnya tiba di RT 018 RW 008. Di sanalah potret warga miskin yang sering luput dari statistik berdiri diam. Sebuah rumah berlantai tanah. Dinding bebak dan bambu..

Separuh nyaris roboh dimakan usia. Rumah itu bukan sekadar bangunan. Ia adalah saksi bisu bertahannya satu keluarga di tengah sunyinya perhatian pemerintah. Di dalamnya tinggal Yafet Manu, istrinya Norlina Faosoni, dan tiga anak mereka.

Namun sore itu Yafet tak ada. Ia sedang bekerja di bengkel motor di kota—pekerjaan serabutan, upah tak menentu, cukup atau tidak, tetap harus dijalani. Karena bagi orang miskin, berhenti bekerja sama dengan berhenti makan.

Yang menyambut tim hanya Norlina. Wajahnya lelah, tetapi suaranya tetap lembut. Di sudut ruangan, anak sulungnya berselimut kain. Siswi SMA itu tak masuk sekolah hari itu. Demam. Hanya minum obat warung. Tak ke puskesmas. Bukan karena tak mau. Karena tak punya BPJS.

Anak kedua masih SMP di Mollo Selatan. Anak ketiga—seharusnya usia sekolah—tak lagi belajar. Tinggal bersama neneknya yang renta di Amanuban Timur.

Sekolah, bagi keluarga ini, perlahan berubah dari hak menjadi kemewahan. Untuk makan sehari-hari saja, Norlina menanam sayur di halaman. Kangkung, sawi, cabai. Dijual ke pasar. Untungnya kecil, tapi cukup membeli beras.

Tentang bantuan sosial? Ia tersenyum pahit. Selama 16 tahun tinggal di sana, bantuan yang diterima hanya sekali: 10 kilogram beras. BLT satu kali. PIP satu kali. PKH? Tidak. Bantuan kesehatan? Tidak.

Jaminan rutin? Tidak pernah.Selebihnya: bertahan sendiri.

“Kami orang kecil, hidup dalam keterbatasan. Tapi kami tak ingin anak – anak putus sekolah sekalipun kurang perhatian dari pemerintah.

Kalimat sederhana itu seperti palu yang menghantam kenyataan. Kasus keluarga Manu–Faosoni bukan cerita tunggal. Ia potret klasik kemiskinan struktural:

1.            Pendapatan tidak tetap

2.            Akses kesehatan minim

3.            Anak putus sekolah

4.            Data bansos tidak akurat

5.            Negara hadir sangat terlambat

Artinya, persoalannya bukan sekadar “malas bekerja”. Ini soal sistem yang bocor. Bantuan sosial seharusnya berbasis data presisi. Pendidikan seharusnya gratis dan terjangkau. Kesehatan mestinya dijamin.

Namun di lapangan, yang terjadi justru sebaliknya: warga paling miskin sering paling sulit dijangkau.

Ironisnya, rumah Norlina hanya beberapa ratus meter dari pusat pemerintahan eksekutif dan legislatif. Kemiskinan itu bukan di pedalaman. Ia tepat di halaman belakang birokrasi.

Ingatan kita belum lama dari tragedi bocah SD di Jerebuu, Ngada—anak yang putus harapan karena kemiskinan. Peristiwa itu seharusnya menjadi alarm keras. Bahwa kemiskinan bukan sekadar angka statistik. Ia bisa membunuh mimpi. Bahkan nyawa.

Dan pers punya tanggung jawab moral: Bukan hanya melaporkan setelah tragedi terjadi.

Tetapi mencegah dengan suara dan sorotan sejak dini. Jika keluarga seperti Norlina terus tak terlihat, siapa berikutnya yang akan jatuh dalam keputusasaan?

Hari Pers Nasional semestinya bukan pesta. Ia cermin. Momentum bertanya jujur:

•             Sudahkah kita turun ke rumah-rumah reyot?

•             Sudahkah kita memverifikasi bansos tak tepat sasaran?

•             Sudahkah kita menekan pemerintah dengan data, bukan sekadar kutipan pejabat?

•             Sudahkah kita berani tidak populer demi kebenaran?

Karena pers sejati tidak lahir dari ruang ber-AC. Ia lahir dari lumpur jalan desa.

Dari atap seng bocor. Dari dapur tanpa beras. Pers yang baik bukan yang paling dekat dengan penguasa. Tapi yang paling dekat dengan penderitaan rakyat.

Kabut di Karang Siri sore itu perlahan menebal. Tim liputan meninggalkan rumah Norlina dengan sepatu penuh tanah. Namun satu hal jelas: Kemiskinan ini nyata. Dekat. Dan mendesak.

Hari Pers Nasional bukan sekadar selebrasi profesi.Ia panggilan nurani. Jika pers masih punya hati, maka suara keluarga-keluarga seperti Manu–Faosoni harus lebih keras dari pidato pejabat mana pun. Karena di sanalah jurnalisme menemukan maknanya: bukan mencari aman, tapi mencari kebenaran. bukan berdiri di lingkar kekuasaan, tapi berdiri di sisi rakyat.

Dan jika pers gagal melakukan itu— maka yang mati bukan hanya fungsi kontrol sosial.

Yang mati adalah harapan. (Tim KLtvnews.com)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *