DaerahHealthInternasionalNasionalPembangunanPendidikanViral

Dari Tangis Jerebuu, Polres TTS Menjahit Kembali Mimpi Anak Bangsa

SoE, KLtvnews.com — Pagi itu, langit Jerebuu terasa lebih kelabu dari biasanya. Tak ada riuh tawa anak-anak berlarian ke sekolah.Tak ada suara langkah kecil membawa tas lusuh.

Yang terdengar hanya isak tangis. Panjang. Pilu. Menyayat dada. Sebuah rumah sederhana di sudut kampung menjadi saksi bisu kehilangan yang tak tergantikan. Yohanis Bastian Roja.
Sepuluh tahun. Kelas IV SD.

Usia yang mestinya dipenuhi mimpi tentang cita-cita, permainan layang-layang, dan coretan pensil warna. Namun hidupnya berhenti… terlalu cepat. Alasannya membuat siapa pun tercekat: ia tak punya buku dan bolpoin untuk sekolah.

Kemiskinan tak hanya mencuri perlengkapannya. Ia merampas harga diri. Ia merampas semangat. Ia merampas masa depan.

Sepucuk surat kecil yang ditinggalkannya menjadi jeritan sunyi— jeritan seorang anak yang merasa sendirian menghadapi dunia.

Tangis dari Jerebuu pun menggema. Menampar nurani banyak orang. Menyadarkan kita bahwa bagi sebagian anak negeri ini, sekolah bukan sekadar belajar—tapi perjuangan bertahan hidup.

Dan ratusan kilometer dari sana… di Timor Tengah Selatan… ada yang memilih tidak hanya berduka.

Mereka bergerak.

Ketika Polisi  Datang Membawa Harapan

Halaman SMP Negeri Noeliu, Desa Neke, Kecamatan Oenino tampak biasa saja pagi itu.

Seragam kusam. Tas usang. bahkan yang lebih menyayat mata – beberapa siswa berjalan di atas tanah berbatu tanpa alas kaki. Buku tinggal lembaran. Potret nyata wajah pendidikan di pelosok. Namun tiba-tiba sebuah mobil patroli berhenti. Bukan untuk razia.
Bukan untuk penangkapan atau Olah TKP. Melainkan membawa kardus-kardus besar.

Isinya? Bukan borgol. Bukan Police Line atau peralatan Olah Tempat Kejadian Perkara. Tapi seragam baru, sepatu, buku tulis, dan bolpoin. Satu per satu nama dipanggil.

Seorang siswi maju perlahan. Tangannya sedikit gemetar saat menerima paket dari polisi. Ia menatap lama sepasang seragam dan sepatu baru itu, seakan tak percaya. Matanya berkaca-kaca.

Seorang anggota polisi membungkuk, memeluknya hangat. “Ini untukmu. Belajar yang rajin. Gapai cita-citamu,” bisiknya lembut. Senyum kecil pun merekah. Senyum sederhana.
Tapi cukup menghangatkan pagi itu.

Di sudut lain, seorang bocah lelaki memasukkan buku tulis baru ke tasnya dengan sangat hati-hati—seperti menyimpan emas. Karena bagi mereka, selembar buku bukan benda biasa. Ia adalah tiket menuju masa depan.

Polri Hadir dengan Hati, Bukan Sekadar Seragam

Kapolres TTS AKBP Hendra Dorizen melalui Kasat Binmas AKP I Made S. Wijaya menegaskan, tragedi Ngada adalah alarm keras.

“Kami tidak ingin ada anak di TTS berhenti sekolah hanya karena tidak punya perlengkapan. Kami tidak boleh terlambat. Kami harus datang lebih dulu.”

Bukan hanya membagikan bantuan. Para polisi itu duduk bersama siswa. Bercerita.
Mendengar keluh kesah. Memberi motivasi tentang disiplin, mimpi, dan masa depan.

Tak ada jarak. Tak ada sekat. Hari itu, mereka bukan sekadar aparat. Mereka adalah orang tua. Mereka adalah kakak. Mereka adalah penjaga harapan. Seolah-olah mereka sedang menjahit kembali mimpi-mimpi kecil yang hampir robek oleh kemiskinan.

Pelajaran Mahal dari Sebuah Tragedi

Realitas di TTS memang keras. Kemiskinan ekstrem masih nyata. Anak-anak berjalan berkilo-kilometer demi sekolah. Putus sekolah masih menjadi ancaman sunyi. Namun tragedi Yohanis memberi pelajaran pahit: Kadang masa depan seorang anak bisa runtuh… hanya karena hal yang bagi kita tampak sepele. Buku. Bolpoin Sepatu. Seragam. Benda sederhana. Tapi bisa menjadi pembatas antara lanjut sekolah atau menyerah pada nasib.

Karena itu, langkah kecil bisa berdampak besar. Sepasang sepatu bisa menyelamatkan mimpi.
Selembar buku bisa menjaga nyala harapan. Dan kepedulian bisa menyelamatkan nyawa. Di Jerebuu, tangis itu mungkin belum sepenuhnya reda. Namun di Noeliu, tawa anak-anak terdengar. Lebih riang. Lebih hidup. Lebih penuh harapan.

Dan mungkin… di situlah makna sesungguhnya kehadiran negara: datang tepat waktu, sebelum satu lagi mimpi anak bangsa terlanjur padam.

Reporter : Polce Lerek

Editor : Polce Lerek

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *