Dari Lapangan Berdebu Ke Panggung Prestasi: Pemda TTS Menghadiahi Keringat, Mengukuhkan Martabat Olahraga Daerah
SoE, KLtvnews.com — Di balik medali yang berkilau, ada peluh yang jatuh, ada ejekan yang ditelan, dan ada mental baja yang ditempa dalam sunyi latihan. Pemerintah Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) membaca dengan jujur pesan dari lapangan olahraga: prestasi tidak lahir dari kebetulan, tetapi dari konsistensi, disiplin, dan keberpihakan Pemerintah Daerah kepada atletnya.
Selama dua tahun berturut-turut, Pemda TTS melalui Dinas Pemuda dan Olahraga menunjukkan keberlanjutan komitmen—sebuah sikap langka namun fundamental—dengan memberikan apresiasi nyata berupa uang pembinaan dan sertifikat kepada para atlet yang telah mengharumkan nama daerah di level provinsi hingga nasional.
Ini bukan sekadar seremoni. Ini adalah pengakuan Pemda terhadap nilai sportivitas, kerja keras, dan daya juang anak-anak TTS.
Sembilan Cabang, Satu Semangat: Tts Bangkit Lewat Olahraga
Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Kabupaten TTS, Wilgo Nenometa, menegaskan bahwa pemberian penghargaan dilakukan berdasarkan pendataan objektif prestasi atlet dari setiap cabang olahraga.
Sebanyak sembilan cabang olahraga menerima perhatian pemerintah:
Tinju, Taekwondo, Kempo, Karate, Road Race, Voli, Grasstrack, Offroad, dan Atletik—sebuah bukti bahwa olahraga TTS tidak berdiri di satu kaki, melainkan tumbuh dalam keragaman disiplin dan potensi.
Total bonus yang digelontorkan mencapai Rp150 juta, angka yang mungkin tak sebanding dengan keringat para atlet, namun cukup bermakna sebagai pengakuan dan pemantik semangat.
Cabor voli putra, juara Ben Mboi Memorial Cup (BBMC) 2025, menerima Rp25 juta, sementara voli putri memperoleh Rp10 juta. Atlet individu juga diapresiasi berdasarkan prestasi:
- Emas: Rp2.950.000
- Perak: Rp2.450.000
- Perunggu: Rp2.020.000
Sederhana? Ya. Bermakna? Sangat.
“Tidak banyak memang, tetapi ini adalah tanda bahwa pemerintah hadir dan menghargai perjuangan atletnya,” ujar Wilgo dengan nada reflektif.
Olahraga Adalah Identitas, Bukan Pelengkap Acara
Penyerahan bonus berlangsung dalam apel penguatan ASN, dipimpin Sekda TTS bersama jajaran asisten dan staf ahli—sebuah pesan simbolik bahwa olahraga bukan sektor pinggiran, melainkan bagian dari pembangunan manusia.
Asisten I Sekda TTS, Deny Nubatonis, menyampaikan apresiasi mendalam kepada para atlet, pelatih, dan manajemen tim.
“Tanpa pelatih dan manajer, atlet tidak akan sampai ke podium. Mereka adalah arsitek di balik kemenangan,” tegasnya.
Ia juga menyinggung stigma lama yang selama ini melekat: bahwa TTS hanya “hadir sebagai pelengkap” dalam kejuaraan. Prestasi hari ini menjadi tamparan telak terhadap anggapan itu.
“Hari ini TTS mulai diperhitungkan. Nama kita hidup, dan disegani di dunia olahraga,” ujarnya lantang.
Dari Ejekan Menjadi Juara: Olahraga Sebagai Sekolah Mental
Momen paling emosional datang dari Ketua PBVSI Kabupaten TTS, Roy Babys, yang mewakili seluruh cabang olahraga.
Ia mengisahkan bagaimana atlet TTS datang sebagai underdog, bahkan menjadi sasaran ejekan.
“Ada yang bilang orang Timor hanya bisa jadi kondektur. Tapi kami balas dengan prestasi. Kami datang dari kampung, tapi kami tidak kampungan,” katanya disambut tepuk tangan.
Pernyataan ini bukan sekadar retorika, melainkan pelajaran besar dalam pendidikan olahraga: bahwa olahraga bukan hanya soal teknik dan fisik, tetapi juga mental juara, harga diri, dan karakter.
Roy menegaskan bahwa pengembangan olahraga sejatinya berkontribusi langsung pada peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Atlet—yang mayoritas pelajar—mendapat pendidikan non-akademik berupa disiplin, kepercayaan diri, kerja tim, dan daya tahan mental.
“Banyak atlet yang berprestasi akhirnya mampu meringankan beban orang tua karena pendidikan dan masa depannya terjamin,” ungkapnya.
Data Prestasi: Bukti, Bukan Opini
Prestasi atlet TTS tercatat jelas dan terukur:
- Tinju: 17 atlet, 13 emas, 3 perak, 1 perunggu
- Taekwondo: 1 perunggu
- Kempo: 1 emas, 3 perunggu
- Karate: 6 perak, 5 perunggu
- Catur: 6 emas
- Road Race: 1 emas
- Voli: Juara BBMC 2025
- Grasstrack: 1 perak
- Atletik: 1 emas, 1 perak
Olahraga Adalah Investasi Peradaban
Apa yang dilakukan Pemda TTS hari ini adalah investasi peradaban. Olahraga bukan sekadar pertandingan, tetapi jalan membangun manusia seutuhnya—kuat fisik, tangguh mental, dan berkarakter.
TTS telah membuktikan:
dari pinggiran, prestasi bisa lahir.
dari keterbatasan, martabat bisa ditegakkan.
Dan selama negara tetap hadir di sisi atletnya, bendera TTS akan terus berkibar di arena manapun.
Reporter: Polce Lerek
Editor: Polce Lerek
