Kelas Digital Hadir di TTS, Anak Daerah Disiapkan Bersaing Nasional
SoE, KLtvnews.com – Di ruang-ruang kelas yang selama puluhan tahun akrab dengan kapur dan papan tulis kusam, kini cahaya baru menyala. Layar-layar digital hidup, menandai lahirnya sebuah babak baru dalam sejarah pendidikan Timor Tengah Selatan. Ini bukan sekadar pergantian alat belajar—ini adalah perlawanan sunyi terhadap ketertinggalan.
Kehadiran SMA Garuda di TTS bukan hanya proyek nasional, melainkan cermin besar yang memaksa daerah bercermin: apakah anak-anak daerah hanya akan berdiri di luar pagar, menonton dari kejauhan, atau berani melangkah masuk dan bersaing? Pemerintah Kabupaten Timor Tengah Selatan memilih menjawabnya dengan tindakan, bukan janji.
Melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Pemda TTS menggulirkan transformasi digital pendidikan dengan menghadirkan Interactive Flat Panel (IFP)—papan pintar yang mengubah kelas menjadi ruang dialog, eksplorasi, dan imajinasi. Sebanyak 75 unit IFP didistribusikan ke 13 SD dan 12 SMP, menjadi denyut baru di jantung pendidikan dasar TTS.
Dengan anggaran Rp 10,5 miliar dari APBD Perubahan 2025, Pemda TTS menegaskan satu pesan keras: masa depan tidak boleh ditawar murah. Investasi ini bukan untuk hari ini semata, tetapi untuk satu generasi yang akan hidup di dunia serba digital, di mana kemampuan berpikir kritis, literasi teknologi, dan adaptasi cepat adalah syarat bertahan hidup.
Namun digitalisasi bukan hanya soal layar dan jaringan. Ia adalah pendidikan karakter digital. Karena itu, para guru dan operator sekolah dipersiapkan menjadi navigator perubahan. Di Aula SMP Negeri 3 SoE, mereka dilatih bukan sekadar menekan tombol, tetapi mengubah metode mengajar—dari ceramah satu arah menjadi pembelajaran interaktif yang mengajak siswa berpikir, bertanya, dan berani mencoba.
Pelaksana Tugas Kepala Bidang SMP Dinas Pendidikan dan Kebudayaan TTS, Jemsi Nifu, menegaskan bahwa langkah ini sejalan dengan Instruksi Presiden Nomor 7 Tahun 2025. Namun lebih dari sekadar menjalankan instruksi pusat, TTS membaca realitas di lapangan: satu unit bantuan pusat per sekolah tak akan cukup untuk menyiapkan puluhan rombongan belajar menghadapi dunia digital.
Yang paling menyentuh, digitalisasi ini memiliki tujuan ideologis pendidikan: agar anak-anak Timor Tengah Selatan tidak menjadi penonton di tanah sendiri. SMA Garuda yang akan beroperasi pada 2026 bukan menara gading yang asing, melainkan target nyata yang harus dikejar oleh siswa-siswi daerah dengan kesiapan akademik dan mental digital.
Sejak bangku SD dan SMP, siswa kini diperkenalkan pada literasi digital yang beretika—belajar menggunakan teknologi bukan untuk konsumsi pasif, tetapi untuk berpikir kritis, berkreasi, dan memecahkan masalah. Mereka diajak memahami bahwa gawai bukan sekadar hiburan, melainkan alat membangun masa depan.
Para guru merasakan denyut perubahan itu. Andri Taopan, guru SMP Negeri 1 SoE, menyebut IFP sebagai “pemantik api belajar” bagi Generasi Z. Kelas menjadi hidup, siswa lebih berani bertanya, dan guru tidak lagi terkungkung metode manual yang membatasi daya jelajah ilmu.
Pengadaan 75 unit IFP yang melibatkan tujuh perusahaan dengan dua merek—Rakindo dan Pineri—menunjukkan bahwa perubahan besar selalu lahir dari kolaborasi. Namun aktor utamanya tetap satu: anak-anak TTS yang hari ini belajar di balik layar digital, dan esok hari akan berdiri di panggung pendidikan nasional.
Akhirnya, transformasi ini adalah pernyataan moral: pendidikan adalah jalan keluar dari ketertinggalan. Ketika layar menyala di kelas-kelas TTS, harapan ikut menyala. Dan pada 2026 nanti, ketika SMA Garuda membuka pintunya, Timor Tengah Selatan tidak datang sebagai penonton—tetapi sebagai penantang yang siap terbang tinggi.
Reporter : Polce Lerek
Editor : Polce Lerek
