DaerahNasionalPendidikanPolitik

 “Beri aku iman politik, niscaya aku gerakkan rakyat!”

  • PDI Perjuangan NTT Menyalakan Api Ideologi di Bumi Flobamorata

Kupang, KLtvnews.com — Malam syukuran pelantikan pengurus DPD PDI Perjuangan Provinsi Nusa Tenggara Timur, Sabtu (20/12/2025), bukan sekadar peristiwa politik biasa. Ia menjelma menjadi ritus ideologis, sebuah panggilan nurani yang mengguncang kesadaran: bahwa politik bukan arena transaksi kekuasaan, melainkan jalan pengabdian suci bagi rakyat kecil.

Di bumi Flobamorata, di tanah yang telah lama mengandung peluh, air mata, dan doa rakyat kecil, PDI Perjuangan Nusa Tenggara Timur berdiri tegak, mengangkat kepala, dan berseru lantang: politik harus kembali ke jalan yang benar!

Dari mimbar yang sarat makna sejarah dan pengabdian, Ketua DPD PDI Perjuangan NTT, Yunus H. Takandewa, menyampaikan pidato yang bukan hanya didengar—tetapi mengguncang jiwa, membakar kesadaran, dan membangunkan nurani politik yang nyaris terlelap.

“Politik tanpa iman adalah bangkai!”
“Politik tanpa ideologi adalah kebohongan!”
“Politik tanpa keberpihakan kepada rakyat adalah pengkhianatan!”

Demikianlah pesan yang mengalir deras, bagai gelegar petir di langit Kupang. Yunus menegaskan: iman politik adalah napas perjuangan. Tanpanya, partai hanyalah mesin kekuasaan. Dengannya, partai menjadi alat pembebasan rakyat!

Di hadapan kader-kadernya, Yunus mengingatkan bahwa PDI Perjuangan tidak dilahirkan dari ruang ber-AC, tetapi dari lorong penderitaan rakyat, dari jeritan wong cilik, dari darah dan air mata sejarah bangsa. Maka siapa pun yang berdiri di bawah panji banteng moncong putih, wajib hukumnya membela yang lemah dan melawan ketidakadilan!

Momentum sakral ini bersanding dengan Hari Ulang Tahun ke-67 Provinsi NTT. Dengan suara yang menggetarkan ruang dan waktu, Yunus memanjatkan doa agar NTT—tanah para petani, nelayan, buruh, dan kaum kecil—menjadi tanah keadilan sosial, bukan ladang eksploitasi; menjadi rumah kesejahteraan, bukan museum kemiskinan.

Ketika hadirin diminta menundukkan kepala untuk mendoakan mantan Gubernur NTT sekaligus mantan Ketua DPD PDI Perjuangan NTT, suasana berubah hening.
Bukan hening kosong—tetapi hening ideologis.
Sebab mereka tahu: pejuang boleh wafat, tetapi perjuangan tidak pernah mati!

Syukuran ini lalu menjelma menjadi panggung persatuan iman. Tausiah lintas agama menggema, menghadirkan pesan luhur bahwa perbedaan keyakinan bukan tembok pemisah, melainkan jembatan kemanusiaan. Dari mimbar spiritual, disampaikan peringatan keras:
Kekuasaan tanpa nurani akan melahirkan tirani!
Politik tanpa moral akan melahirkan penderitaan!

Menjawab tantangan zaman, Yunus mengumumkan pembentukan Baitul Muslimin Indonesia sebagai badan partai. Ini bukan kosmetik organisasi. Ini adalah bengkel ideologi, tempat kader ditempa agar politik tidak sekadar lihai berbicara, tetapi berani berkorban dan setia pada nilai!

Namun dengarlah wahai rakyat NTT— PDI Perjuangan NTT tidak hanya pandai berseru, tetapi sanggup bekerja!

Ketika bencana melanda Sumatera dan Aceh, kader-kader PDI Perjuangan NTT tidak menunggu instruksi kekuasaan. Mereka bergerak! Mereka patungan! Mereka menghimpun Rp55 juta dana solidaritas. Sebab bagi mereka, penderitaan rakyat di mana pun adalah penderitaan kita semua!

Lebih dari itu, lahirlah Klinik Hukum PDI Perjuangan NTT—bukan untuk elit, bukan untuk orang kuat, tetapi untuk rakyat kecil yang takut pada hukum karena hukum terlalu sering berpihak pada yang berduit. Klinik ini menjadi benteng perlawanan terhadap ketidakadilan, bahkan mengawal langsung korban hingga ke Polda NTT.

Kurangi teriak, perbanyak pembelaan!
Kurangi janji, perbanyak aksi!
Kurangi panggung, perbanyak keberanian membela rakyat!

Kalimat itu bukan sekadar kutipan—ia adalah manifesto perlawanan moral terhadap politik omong kosong!

Pantauan KLtvnews.com, acara tersebut dihadiri para Ketua DPC, Ketua DPRD, tokoh agama, tokoh masyarakat, insan pers, dan kader dari seluruh penjuru NTT. Di akhir acara, doa bersama dipanjatkan—bukan doa pasrah, tetapi doa perjuangan.

Malam itu di Kupang, politik tidak sedang dirayakan.
Politik sedang disucikan kembali.

Dan dari tanah NTT terdengar gema yang mengguncang langit:

“Selama rakyat masih menangis,
selama keadilan belum merata,
selama orang kecil masih tertindas—
PDI Perjuangan tidak boleh berhenti berjuang!”

Reporter                      : Tim Media PDIP NTT

Editor                          : Polce Lerek

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *