“TTS Bergerak dari Desa, Bongkar Data ATS by Name by Address”
- Ada 21 Ribu Lebih Anak di TTS Terlempar dari Bangku Sekolah
- Dinas P&K TTS Gelar Bimtek Verivali data ATS
SoE, KLtvnews.com – Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) kembali berada pada sorotan serius dunia pendidikan di Nusa Tenggara Timur. Hingga kini, angka Anak Tidak Sekolah (ATS) di wilayah ini masih menempati peringkat pertama se-Provinsi NTT, dengan jumlah yang mencengangkan mencapai 21.481 orang. Fakta ini menjadi peringatan keras, terlebih ketika sektor pendidikan justru menjadi prioritas utama dalam kucuran anggaran pemerintah pusat.
Ironisnya, besarnya alokasi anggaran pendidikan belum sepenuhnya berbanding lurus dengan kondisi riil di lapangan. Ribuan anak usia sekolah di TTS masih tercecer dari sistem pendidikan formal maupun nonformal. Inilah persoalan mendasar yang kini coba dibedah secara serius oleh Pemerintah Kabupaten TTS melalui pendekatan berbasis data (by data), bukan lagi sekadar asumsi.

Langkah Strategis: Bimtek Verifikasi Data ATS
Sebagai upaya konkret menekan angka ATS, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (P&K) Kabupaten TTS menggandeng Lembaga Inovasi NTT, BPMP NTT, serta Pusat Data dan Informasi Kemendikdasmen RI untuk menyelenggarakan Bimbingan Teknis (Bimtek) verifikasi dan validasi data ATS.
Kegiatan yang berlangsung di Hotel Timor Megah SoE ini dilaksanakan untuk tiga angkatan, dengan total 301 peserta, terdiri dari:
- 266 operator desa,
- 12 operator kelurahan, dan
- 23 operator PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat).
Bimtek ini menjadi tulang punggung dalam membangun basis data yang akurat, terverifikasi, dan dapat dipertanggungjawabkan.
ATS Bukan Sekadar Angka
Anak Tidak Sekolah (ATS) didefinisikan sebagai anak usia 5–18 tahun yang:
- tidak pernah bersekolah,
- putus sekolah (drop out),
- telah lulus namun tidak melanjutkan ke jenjang lebih tinggi, dan
- tidak tercatat dalam Data Pokok Pendidikan (DAPODIK), baik di satuan pendidikan formal maupun nonformal.
Tanpa data yang valid, program intervensi hanya akan menjadi kebijakan di atas kertas. Karena itu, verifikasi by name by address menjadi kunci utama.
Kadis P&K TTS: Data Riil Jadi Dasar Eksekusi Program
Kepala Dinas P&K Kabupaten TTS, Musa S. Benu, SH, menegaskan bahwa bimtek ini dirancang untuk memastikan keakuratan data di tingkat paling bawah.
“Bimbingan teknis ini dimaksudkan agar diperoleh data by name by address terkait anak tidak sekolah di wilayah TTS, baik anak yang tidak pernah sekolah maupun yang putus sekolah,” ujar Musa Benu saat dikonfirmasi KLtvnews.com, Rabu (17/12/2025).
Ia menambahkan, dengan data riil tersebut, Dinas P&K selaku instansi teknis akan mengeksekusi berbagai program yang selaras dan terukur guna menurunkan angka ATS secara bertahap namun pasti.
Serius dan Fokus di Lapangan
Pantauan KLtvnews.com menunjukkan ratusan operator desa, kelurahan, dan PKBM mengikuti setiap sesi pemaparan materi dengan penuh keseriusan. Mereka dibekali referensi teknis agar proses verifikasi dan validasi data di lapangan dapat berjalan optimal, objektif, dan berkelanjutan.
Kegiatan ini tidak berhenti pada ruang pelatihan semata, tetapi diharapkan menjadi gerakan masif di seluruh desa dan kelurahan se-Kabupaten TTS.
Desa Jadi Ujung Tombak Perubahan
Lebih jauh, pada tahun 2026, desa-desa dengan sasaran ATS didorong untuk mengalokasikan anggaran melalui APBDes. Dengan sinergi bersama Dinas P&K Kabupaten, desa dapat menjalankan berbagai program intervensi pendidikan—mulai dari pendidikan kesetaraan, paket belajar, hingga fasilitasi kembali ke bangku sekolah.
Menuju TTS Bangkit dari Darurat Pendidikan
Persoalan ATS di TTS bukan sekadar statistik, melainkan menyangkut masa depan generasi daerah. Melalui langkah sistematis, konstruktif, dan berbasis data, Pemerintah Kabupaten TTS kini menegaskan komitmennya: tidak ada lagi anak yang tertinggal dari hak dasar memperoleh pendidikan.
Data yang benar adalah awal dari kebijakan yang tepat. Dan dari sinilah, harapan baru pendidikan TTS mulai dibangun.
Reporter : Polce Lerek
Editor : Polce Lerek
