DaerahHealthNasionalPendidikan

“Menjemput Masa Depan: Pemkab TTS Genjot Konvergensi Stunting Menuju Target 41,8% di 2030”

SoE, KLtvnews.com — Pemerintah Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) kembali menegaskan komitmennya dalam memerangi stunting yang kini berada pada level mengkhawatirkan. Melalui Pramusyawarah Perencanaan Pembangunan (Pramusrenbang) Tematik Stunting Tahun 2025 yang digelar di Aula Mutis Kantor Bupati TTS, Rabu (19/11/2025), Pemkab TTS memaparkan strategi besar, langkah terukur, dan kerja lintas sektor yang akan digerakkan selama lima tahun ke depan.

Paparan ini disampaikan Kepala Bappeda Kabupaten TTS Johanis Benu, SE., M.Si melalui Kabid Pembangunan Manusia dan Masyarakat, Sipri Payong, yang menjelaskan secara rinci arah kebijakan dan strategi konvergensi penurunan stunting berbasis visi jangka panjang daerah dan nasional.

Situasi Krisis: Angka Stunting TTS Masih Tertinggi Se-NTT

Dalam presentasinya, Sipri memaparkan data yang mengejutkan sekaligus menggerakkan keprihatinan bersama.

Dari hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) dan Survei Kesehatan Indonesia (SKI), prevalensi stunting Kabupaten TTS tahun 2024 mencapai 56,8%, jauh lebih tinggi dari rata-rata:

  • Provinsi NTT: 17,07%
  • Nasional: 19,8%

Tren ini dinilai sangat mengkhawatirkan karena dalam lima tahun terakhir situasi stunting di TTS justru menunjukkan fluktuasi yang cenderung meningkat, yakni:

  • 2019: 48,3%
  • 2020: 45,2%
  • 2021: 45,2%
  • 2022: 50,1%
  • 2023–2024: naik tajam menjadi 56,8%

“Kita tidak bisa menutup mata. Setiap angka yang naik bukan hanya statistik, tetapi masa depan seorang anak,” tegas Sipri dengan nada serius.

Landasan Kebijakan: Menyongsong Visi Indonesia Emas 2045

Upaya percepatan penanganan stunting di TTS selaras dengan:

  • Visi Indonesia Emas 2045: “Bersama Indonesia Maju, Menuju Indonesia Emas 2045”
  • Visi Kabupaten TTS: “Terwujudnya Timor Tengah Selatan yang Maju, Mandiri, Sejahtera dan Berkelanjutan”

Sementara itu, Misi Kabupaten TTS menekankan peningkatan kualitas SDM, penguatan infrastruktur, penanggulangan kemiskinan, serta percepatan penurunan stunting sebagai pilar utama transformasi sosial.

Target Ambisius: Penurunan 41,8% Stunting di Tahun 2030

Pemkab TTS telah menetapkan target besar untuk menurunkan prevalensi stunting secara bertahap:

  • 2026: 51,8%
  • 2027: 49,3%
  • 2028: 46,8%
  • 2029: 44,3%
  • 2030: 41,8%

Target ini disebut realistis namun membutuhkan kerja keras, strategi tepat, dan kolaborasi menyeluruh antar-OPD.

Aksi Konvergensi: 9 OPD Bergerak Bersama

Untuk mencapai target tersebut, Pemkab TTS menggerakkan 9 Organisasi Perangkat Daerah (OPD) melalui program konvergensi yang fokus pada peran, indikator, dan capaian sesuai tupoksi masing-masing:

  1. Dinas Sosial
  2. Dinas TPHP
  3. Dinas PMD
  4. Dinas PRKP
  5. Dinas Ketahanan Pangan
  6. Dinas P3A
  7. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan
  8. Bappeda
  9. Dinas Perikanan

Setiap OPD memiliki sub-kegiatan yang berkontribusi pada intervensi spesifik dan sensitif, mulai dari pangan, pendidikan, sanitasi, pemberdayaan masyarakat, hingga akses kesehatan.

Dua Pilar Aksi Konvergensi

1. Aksi Utama

  • Analisis situasi stunting tingkat kecamatan dan kabupaten
  • Penguatan perencanaan
  • Penguatan pelaksanaan
  • Monitoring & evaluasi

2. Aksi Pendukung

  • Penguatan regulasi
  • Publikasi dan diseminasi informasi

Pendekatan ini diharapkan mampu memastikan setiap intervensi tepat sasaran, terukur, dan berdampak langsung pada kelompok berisiko.

Dukungan Anggaran: Lebih dari Rp 1,4 Triliun

Sipri juga memaparkan bahwa total anggaran tahun 2026 untuk mendukung upaya pembangunan, termasuk pencegahan stunting, mencapai:

Rp 1.448.919.379.275

Dengan rincian sumber pendanaan:

  • Transfer umum: Rp 826.910.295.000
  • Dana desa: Rp 220.188.834.000
  • DAK fisik: Rp 25.017.313.000
  • DAK non fisik: Rp 344.742.583.000
  • Transfer antar daerah: Rp 32.060.354.275

Stunting Bukan Sekadar Gizi: Masalah Multidimensi

Di bagian akhir pemaparannya, Sipri menegaskan bahwa penanganan stunting tidak bisa hanya bertumpu pada sektor kesehatan.

Stunting adalah masalah multidimensi. Ia bukan hanya soal kurang gizi, tetapi juga kondisi sanitasi, pendidikan, kesejahteraan sosial, hingga kualitas lingkungan. Karena itu, kolaborasi lintas sektor menjadi kunci utama,” tegasnya.

Ia juga menekankan pentingnya peran organisasi masyarakat, gereja, lembaga adat, hingga LSM/NGO yang selama ini turut terlibat dalam pendampingan keluarga dan edukasi masyarakat.

Di Balik Angka, Ada Harapan

Upaya besar ini bukan hanya soal mengejar target, tetapi tentang menyelamatkan generasi muda TTS agar bisa tumbuh sehat, cerdas, dan produktif.

Bahwa di balik setiap persentase yang diturunkan, ada seorang anak yang terselamatkan.
Bahwa di balik setiap strategi yang disusun, ada harapan untuk masa depan TTS yang lebih baik.

Kolaborasi pemerintah, masyarakat, dan seluruh pemangku kepentingan menjadi kunci menuju TTS bebas stunting di masa depan. (Polce Lerek / KLtvnews.com)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *